Cerita masa kecil Bung Karno

Ini malam tanggal 6 Juni, tanggal dimana Bung Karno lahir, tanggal dimana orang paling inspiratif atas kemerdekaan Indonesia dan orang yang paling unik sepanjang sejarah modern Indonesia, hampir di seluruh buku biografi dan sejarah orang Indonesia yang bercerita pada kurun waktu 1901-1970, selalu menempatkan Sukarno sebagai indeks nomor satu, indeks terbanyak yang dimuat. 
Sukarno adalah alasan terbesar Indonesia berdiri, banyak yang bilang itu berlebihan, tapi fakta memang demikian. Waktu para pemuda ingin memerdekakan Indonesia, mereka tak bisa memandang orang lain selain Sukarno, tak ada yang bisa menjamin kemerdekaan Republik Indonesia dan dipercaya masyarakat luas Indonesia selain Sukarno. Dan ini juga dikatakan Sjahrir pada Tan Malaka : “Kalau kamu punya sepersepuluh saja kekuatan Sukarno, aku berani ikut kamu”. Setelah Sjahrir keliling Djawa melihat bagaimana rakyat bersorak sorai atas kemerdekaan bangsanya dengan jaminan dua orang : Sukarno-Hatta.

Lalu bagaimana dengan masa kecil Sukarno? kesadaran Sukarno tentang harga diri sebuah bangsa untuk mendapatkan hak terhormatnya? banyak cerita mengelilingi Sukarno, buku-buku banyak diterbitkan khusus mengulas masa kecil Sukarno, apalagi di tahun 1950-an, tapi ada buku yang bercerita tentang masa kecil Sukarno yang dikarang tetangga Sukarno yang bernama Hermen Kartowisastro, buku ini diterbitkan tahun 1978 ketika Orde Baru sedang kenceng-kencengnya gebukin mahasiswa karena persoalan NKK/BKK, dan mahasiswa minta Presiden Suharto mundur. Buku ini menjadi semacam oase, atas kerinduan bangsa Indonesia atas sosok Bung Karno, setelah Sukarno dihajar habis-habisan lewat Proses De-Sukarnoisasi yang secara efektif dilancarkan oleh lingkaran dalam Jenderal-Jenderal Orde Baru, maka perlawanan bahwa ‘Kenangan Sukarno’ sebagai orang yang paling depan dalam lahirnya sebuah bangsa mencuat. Rakyat waktu itu rindu Bung Karno.

Hermen bercerita soal Gasing, gasing itu mainan anak kecil banyak orang Jawa yang diputar dan kalo ngadu, berarti lama-lama’an berputar paling lama. Sukarno kalah melulu sama Hermen dalam maenan ini, lalu ia gunakan cara Sukarno “diambil gasing saya lalu dibuangnya ke sungai” kenang Hermen sambil tertawa. Dalam banyak hal Sukarno tak boleh kalah. Harga diri adalah yang paling utama dalam diri Sukarno.

Bila DN Aidit menyadarkan dirinya bahwa bangsa ini terjajah saat ia melihat buruh tambang timah di Maskapai Timah Belitung, dimana manusia seperti mesin tak punya hak kemerdekaan, dimana rumah-rumah Belanda terang benderang oleh lampu sementara rumah pribumi gelap gulita, sementara mereka adalah pemilik sah negeri ini, maka ia menyadari bahwa bangsa ini tak merdeka…begitu pula Bung Karno, ia sadar bahwa dirinya hanya pungguk yang gagal membebaskan diri. Suatu saat ia jatuh cinta pada Mien Hessel, gadis manis Belanda yang ia kenal disaat istirahat sekolahnya, Mien ini anak pegawai di Surabaya. Rumah Mien dekat dengan HBS Sukarno, tiap waktu ketika jatuh cinta dengan Mien, Sukarno pinjam cermin ke Kartosuwiryo kawan indekost-nya, “Mas Karto aku lagi verliefd (jatuh cinta)..sama noni Belanda” Kartosuwiryo ketawa saja, Hermen menyaksikan itu sambil geleng-geleng “No, kau jangan sembunyi, lamar cewek itu” kata Hermen sambil meledek Sukarno. Sukarno nyengir kuda mendengar ejekan Hermen.

Ejekan Hermen itu rupanya jadi kenyataan “Bukan Sukarno namanya bila tak bertindak, aku harus melamar Mien pujaan hatiku” kata Sukarno dalam hati, lalu ia menyisir rambutnya dengan minyak rambut tebal-tebal, merapikan bajunya dan membawa sejumput kembang mawar yang ia petik dari depan halaman milik bu Suharsikin (isteri Pak Tjokroaminoto). Waktu itu sore sekitar jam 5, rumput-rumput berbaris bagai beludru, hijau tebal di halaman Mien Hessels. Hati Sukarno berbunga-bunga sekaligus ketakutan melihat wajah bapak Mien Hessel yang tinggi besar dan berwajah tekuk tak ramah.

“Saya ingin melamar anak Tuan untuk jadi isteri saya” kata Sukarno dengan mata runtuh ketakutan sekaligus badannya gemetar. “Apa kowe pribumi kotor mau lamar anak saya” Bapak Mien membuang muka sekaligus meludah ke arah samping. Melihat tingkah laku ayah Mien itu, Sukarno mendidih darahnya, ia mendongak tak bicara, matanya setajam elang, ia marah pada orang ini, ia marah karena kehormatannya dirampok, tapi kemudian dengan cepat hatinya lebur, ia merasa malu di depan rumput-rumput hijau yang cantik dan bunga-bunga yang bermekaran, ia berkata pelan ‘Wat Ben Ik’………”apalah saya” itulah titik terendah kehidupan Sukarno, yang menyadarkan diri bahwa ini bukan persoalan dirinya saja, tapi persoalan kehormatan manusia, kehormatan bangsanya, berapa juta ludahan yang diterima bangsanya dari orang Belanda, “bahkan bayi-bayi Belanda-pun sudah diajari meludah kepada kaum pribumi” kata Bung Karno didalam buku Otobiografinya, Cindy Adams. -Sejak itu Sukarno memberikan hidupnya untuk kemerdekaan bangsa Indonesia, sebuah pembebasan manusia-.

Suatu saat Bung Karno datang ke Pasar Malam, ia berlomba lempar gelang, dan kemudian aneka permainan. Sukarno memenangkan perlombaan hadiahnya kuda. Pusinglah Sukarno, di tempatnya indekost rumah Pak Tjokro di Plampitan sangat sempit, tak mungkin ada halaman luas memelihara kuda, ada secuil halaman kosong di belakang rumah Pak Tjokro, terpaksa Sukarno membawa kuda masuk ke halaman rumah dan mengikatnya di kandang, ia hanya kuat memberi makan lima hari, ia kasihan kuda ini tak bisa berlari. Ketika Hermen menanyakan kemana kuda sirkus itu, Sukarno menjawab “Sudah kuberikan ke kusir Delman” kenangan akan kuda yang dikekang ini, membuat ia tak mau lagi mengikat binatang, didepannya binatang harus hidup lepas, seperti rusa-rusa di di halaman Istana Bogor.

Suatu saat Sukarno datang dari Bandung, ia mendengar Pak Tjokro dipenjara, dan Bu Suharsikin baru aja meninggal, ia tak tega melihat anak-anak Pak Tjokro terlantar dengan mengemban rasa tanggung jawab, Sukarno mencari uang sebagai petugas stasiun kereta api, ia jadi tukang angkat-angkat bendera. Lalu ia mengajar sendiri anak-anak Pak Tjokro. Termasuk di dalamnya Harsono Tjokroaminoto. Suatu saat si Harsono harus disunat, Sukarno-lah yang memanggil dukun sunat dan menyunat Harsono kecil.

Kelak Harsono menjadi salah satu Pemimpin Partai Politik berhaluan Islam, pernah suatu saat Harsono mau ikut-ikutan nentang Bung Karno, tapi dengan mata kocak Bung Karno panggil Harsono dan berkata singkat “Son, ingat siapa yang menyunat kamu” kata Sukarno sambil tertawa.

Yang paling sedih bagi Sukarno adalah harus menandatangani hukuman mati bagi Kartosuwiryo, kawan indekost-nya, teman kecil Sukarno dan orang paling dekat bagi dirinya waktu di Surabaya, bagaimana tidak, Kartosuwiryo sering berboncengan dengan Sukarno untuk ke depot cari makanan dan bercerita soal-soal bangsa dan kejadian sehari-hari, tapi karena politik maka Sukarno didesak menandatangani hukuman mati. Sukarno tak bisa tidur berhari-hari, ia Sholat sunnah memohon petunjuk Allah swt, inilah masa terberat yang dialami Sukarno dalam memutuskan sesuatu.

Bagaimanapun Sukarno adalah manusia, tapi manusia yang sudah memberikan hadiah bangsa kepada kita, adalah perbuatan biadab bila kita menyia-nyiakan bangsa Indonesia yang merupakan mimpi bersama orang-orang tua kita dimasa lampau.

Jagalah Indonesia kita dengan seluruh hatimu………

(Anton DH Nugrahanto)

sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150889198347444&set=a.53765742443.67897.601337443&type=3&permPage=1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s