“Budaya Tradisional Di Tangan Pemuda”

Dewasa ini sebuah ideifikasi baru nampaknya telah sukses menggelayuti benak kaum muda Indonesia. Budaya tradisional yang hakikatnya adalah soko guru dari sebuah peradaban negeri ini, kini mulai mengalami derogasi makna yang sangat jauh merosotnya.

Budaya tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik dan indah untuk dilestarikan. Ironisnya budaya para negeri berkembang kerap dianggap inferior. Dan sampai saat ini teori kelas masih langgeng melanda hingga ke ranah budaya. Pengagungan yang berlebihan akan budaya barat telah menjadi hal yang lumrah dikalangan kaum muda. Skizofrenia budaya. Nampaknya istilah inilah yang kini lazim mendeskripsikan kaum muda negeri ini.

Isltilah skizofrenia diambil dari khazanah ilmu psikologi. Dalam bukunya The Divided Self, R.D Laing menyatakan seorang skizofrenia itu melihat dirinya tidak nyata dan terbelah, sehingga ia tidak mampu memelihara identitas diri yang sebenarnya (Yasraf A Piliang, Transpolitika hal.162). Istilah ini kemudian penulis jadikan sebagai rujukan untuk menggambarkan kaum muda yang kini terperangkap dalam kamuflase pusaran global. Globalisme lewat globalisasi telah berpartisipasi aktif dalam mengaburkan identitas keindonesiaan. Ketidakjelasan dasar akan identitas ini kelak akan menghantarkan generasi muda pada kondisi baru yakni “nomadisme identitas”.

Saat dihadapkan pada persoalan budaya tradisional kita acap kali menemukan konotasi negatif. Budaya tradisional seakan-akan dianggap bagian dari masa lalu belaka. Hal ini membuatnya hanya layak dipajang di museum dan didokumentasikan sebagai bagian dari rangkaian sejarah. Pandangan demikian menjadi lumrah di tengah informasi dan wawasan kebudayaan yang masih belum membumi di negeri ini.

Eksistensi budaya tradisional terancam akibat direduksi oleh akses sosialisasi budaya tradisional yang tidak masif. Kaum muda awam akan informasi kekayaan budaya tradisional. Padahal budaya tradisional potensial dijadikan soft power dalam menangkal tantangan-tantangan globalisme.

Disadari atau tidak, dominasi budaya luar dalam kancah media menjadi parasit yang pelan-pelan “mematikan” dimensi budaya tradisional.

Budaya Tradisional sebagai Soft Power

Ada sesuatu yang unik ketika Soekarno, presiden pertama sekaligus proklamator kemerdekaan negeri ini membumikan konsep trisaktinya. Pada 17 Agustus 1964, di dalam pidatonya beliau mengemukakan trisakti (sebuah prinsip berdikari) yang salah satunya adalah berkepribadian dalam kebudayaan.

Dalam pidato “Tavip” : tahun vivere pericoloso, berkepribadian dalam kebudayaan tetap terpatri menjadi salah satu pilar sebuah konstruksi negara yang dicita-citakan Bung Karno. Pertanyaannya adalah kekuatan apa yang tersirat dalam kepribadian dalam budaya hingga kemudian disandingkan dengan masalah politik dan ekonomi?

Kesadaran akan heterogenitas Indonesia-kemudian menelurkan budaya yang plural- mampu membuka paradigma Soekarno bahwa disamping persoalan ekonomi dan politik, budaya juga mempunyai andil dalam membentuk karakter berbangsa dan bernegara (soft power) yang anti kolonialisasi dan imperialisasi.

Di masa ini, budaya masih menempati kursinya sebagai nation identity. Di era orde lama budaya tradisional menjadi sebuah kebanggaan. Tak syak kebijakan khas pemerintah era itu adalah semangat memperkenalkan budaya tradisional ke seluruh penjuru dunia. Budaya tradisional diharapkan mampu memukau dan menarik simpati dunia internasional dan mengakui keunikan dan kebesaran negeri Indonesia.

Romantika budaya kini ditanam dalam dimensi sejarah. Budaya tradisional kerap diidentikkan dengan nomenclature primitifitas. Kaum muda yang diharapkan sebagai individu berbudaya seakan “ogah” dan kini menganut paham anti-budaya tradisional.

Kaum Muda : Nasib Budaya Tradisional Indonesia

Sudah menjadi keniscayaan bahwa kaum muda adalah tonggak sebuah peradaban. Masif atau merosotnya peradaban akan sangat ditentukan peranan kaum muda.

Budaya tradisional yang menyiratkan filosofi hidup pelan-pelan terseleksi oleh alam kontestasi. Bahaya laten yang menghadang adalah kepunahan budaya tradisional. Aksi claim akan budaya Indonesia patut dijadikan alarm untuk pelestarian budaya negeri.

Belum lama ini, emosi kaum muda membara ketika diusik oleh negara lain yang mulai menganeksasi budaya domestik. Sayangnya ini hanya sebagian dari karakter reaksioner yang bersifat insidental.

Rejuvenasi budaya tradisional adalah sebuah pekerjaan besar. Semuanya hanya akan dimulai dari sebuah kebanggaan yang lahir dari pribadi kaum muda. Hal ini membutuhkan peran kaum muda dalam mengejawantahkan konsepsi pribadi berbudaya.

Dekade ini budaya tradisional berada pada tahap pracondition take-off. Mulai diakuinya budaya tradisional Indonesia di kancah internasional, penulis merasa hal ini adalah ruang strategis yang seharusnya dimanfaatkan oleh kaum muda. Wayang purwa, keris, batik, angklung, dan tarian tradisional seperti tari saman yang mampu memukau dunia internasional telah mengindikasikan budaya tradisional Indonesia sedang naik daun. Harapannya ini akan “mematikan” nomenclature primitif yang kerap disandingkan dengan budaya tradisional.

Kekayaan budaya tradisional yang beragam mulai membuka mata kaum muda. Kreatifitas dan inovasi yang dipadukan untuk merejuvenasi budaya tradisional menyadarkan kita akan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pergelaran budaya dan hasil seni budaya tradisional ternyata mampu membangkitkan estetika sekaligus mendulang nilai ekonomis.

Kita harus memahami bahwa kaum muda yang “ogah” dengan budaya tradisional tidaklah menjadi sebuah permanensi. Konstruksi itu hanya sebagai manifestasi kungkungan global yang begitu kental dengan modernitasnya. Identitas itu hanya melekat ketika mereka masih acap dihadapkan pada singular choice.

Promosi budaya barat yang menyilaukan. Kenikmatan yang ditawarkan sangat potensial memperngaruhi pola pikir kaum muda sesegera mungkin ditantang dengan kreativitas kaum muda. Menjegal imperialisme budaya atau culture trap adalah tugas kaum muda. Jangan sampai budaya luar mengikis karakter asli kita dengan sangat mudah. Karena ketika identias Indonesia benar-benar hilang, maka saatnya peradaban luar yang hidup di negeri Indonesia.

Penyambung peradaban

Sungguh tidak aneh ketika para orang tua membesarkan dan merawat anak-anaknya dengan perjuangan. Tampaknya pada prinsipnya ada ekspektasi besar bahwa sang anak akan menjadi gambaran orang tuanya di masa akan datang. Meneruskan sebuah cita-cita luhur yang tidak lagi mampu dilanjutkan orang tuanya. Secara sederhana kita bisa mengartikan bahwa generasi muda berperan menyambung sebuah peradaban yang telah terbangun pondasinya.

Melestarikan budaya tradisional adalah beban kaum muda. Dengan inovasi, kreatifitas, dan intelektualnya, kaum muda bertanggung jawab akan sebuah perkembangan peradaban budaya tradisional yang masif.

Junius Fernando S Saragih

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad

*dimuat di: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/456133/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s