Dari Bung Karno kita banyak belajar, bagaimana Indonesia harus dicintai

Tidak seperti Menlu kita sekarang, Marty Natalegawa yang sibuk ngerapihin kumis saja tanpa prestasi, kecolongan anak bangsa dipenggal di Saudi tanpa pembelaan berarti dari Deplu atau SBY yang merengek-rengek minta dibelikan pesawat terbang mahal tapi kerjanya ke luar negeri cari utangan baru atau ketika memamerkan album lagu terbaru dicuekin di forum Internasional di Davos Swiss, Beda sekali mutu SBY yang rendahan dengan dengan mutu Bung Karno berkualitas tinggi itu dengan melakukan politik diplomasi yang bukan saja amat strategis dalam mengembangkan geopolitik-strategis tapi juga mengenalkan budaya sehingga hubungan antara dua negara bisa menjadi hubungan antara rakyat dan dikenang banyak orang. 

Di Yugoslavia nama Bung Karno mendapatkan tempat terhormat, di Mesir apalagi orang Mesir yang sudah berusia lanjut pasti mengingat nama Presiden Sukarno, bahkan nama Sukarno sering dikaitkan dengan buah Mangga Probolinggo, pernah satu saat Jenderal Mitro -eks Pangkopkamtib- ke Mesir disana ia melihat buah mangga besar-besar, Jenderal Mitro yang waktu itu pakai baju sipil dan berkeliling pasar di Kairo, Mesir, nanya ke pedagang buah “Dari mana Mangga ini?”

Dijawab “Dari Indonesia” terus Mitro bilang “Saya dari Indonesia” pedagang itu teriak “Ha…Indonesia, Sukarno…Sukarno”. Akhirnya dua orang ini bicara akrab, inilah contoh bagaimana sebuah kerja Presiden bisa menjadikan dua manusia bertemu saling bersahabat, sebuah esensi hasil diplomasi sesungguhnya.

Di Uzbekistan, tepatnya di Bukhara orang Indonesia mendapatkan kedudukan terhormat, bagaimana tidak karena Bung Karno-lah Masjid peninggalan Imam Bukhari, ahli perawi Hadist Nabi Muhammad saw, dikembalikan fungsinya setelah Sukarno menekan Kruschev “Saya tidak mau bersahabat dengan anda, dengan Sovjet Uni bila anda tidak menghargai orang yang paling terhormat untuk umat Islam..Imam Bukhari, rapikan makamnya, dan berilah penghargaan terhadap peninggalannya” ancam Bung Karno, dan Kruschev menurut hasilnya… bila orang Indonesia kesana para warga Bukhara amat menghormati orang Indonesia karena kenangan akan Sukarno.

Saat Sukarno berkunjung ke RRC tahun 1956 sambutan rakyatnya luar biasa, dalam kunjungan ke Cina itu Bung Karno, bicara dengan Mao : “lagu-lagu budaya kami luar biasa”. Mao tertawa “Mr. Presiden, saya menyanyikan lagu Bengawan Solo saat saya gerilya di hutan-hutan Yenan, saat saya buru itu pasukan Kuomintang Chiang Kai Sek, saya sering dengar di radio BBC lagu Bengawan Solo” kata Mao dengan wajah sumringah. “Oke kalo begitu coba dengarkan lagu yang lain” kata Bung Karno nggak mau kalah. Lalu Bung Karno menyuruh salah satu ajudannya nyanyi : Ayo Mama… “Ini lagu Ambon punya, Maluku…sebuah pulau yang amat cantik di Timur Indonesia” kata Bung Karno setelah menyuruh ajudannya menyanyi. Mao terpesona lalu meminta lagu Ayo Mama dinyanyikan sebagai lagu hiburan.

Sejak Bung Karno memperkenalkan lagu “Ayo Mama” di tahun 1956, lagu itu menjadi lagu paling terkenal di Cina, terutama untuk lagu anak-anak, hampir semua anak-anak TK dan SD di RRC menyanyikan lagu ini yang diajarkan di sekolah-sekolah, mereka akan bergembira bila disuruh nyanyikan lagu ini. Setiap bayi-bayi di RRC dinyanyikan sama ibu-nya lagu “Ayo Mama” dalam versi bahasa Cina dengan nada riang, setiap manusia Cina yang baru lahir terbiasa mendengarkan lagu ini.

Ada lagi peninggalan Bung Karno yang membuat tergetar banyak orang yaitu : sajaknya, Rakyat Cina daratan mengenang hubungan Indonesia-RRC dimasa lalu yang amat kuat dan diproyeksikan untuk menantang Indonesia, di satu malam yang cerah di aula Gedung Universitas Guang Xi Normal University, sebuah Universitas kenamaan di Cina, di sebuah aula yang dihadiri 5000 orang, sebuah puisi dibacakan oleh An Xiao Shan, seorang dosen Bahasa Indonesia di Universitas itu. Ia membacakan sebuah sajak menggetarkan dari Bung Karno, judulnya

“Aku Melihat Indonesia”

Jika aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar lautan Indonesia bergelora
Membanting di pantai Ngeliyep itu
Aku mendengar lagu – sajak Indonesia

Jikalau aku melihat
Sawah menguning menghijau
Aku tidak melihat lagi
Batang padi menguning – menghijau
Aku melihat Indonesia

Jika aku melihat gunung-gunung
Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Merbabu
Gunung Tangkuban Prahu, Gunung Klabat
Dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengar pangkur palaran
Bukan lagi pangkur palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jika aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jika aku melihat wajah anak-anak di desa-desa
Dengan mata yang bersinar-sinar
(berteriak) Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka!
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia!

Saat An Xiao Shan membaca sajak itu, seluruh ruangan hening senyap, hampir semua yang hadir merayap kalbunya, merasakan bagaimana seseorang mencintai bangsanya, membangunkan imajinasinya tentang bangsanya, sehingga seluruh hidup diserahkan untuk bangsanya, bukan mencuri kekayaan dari bangsanya, tapi memberikan agar bangsanya di masa depan menjadi bangsa yang kuat, itulah api cinta yang diberikan Bung Karno, ditularkan kepada seluruh orang Indonesia, diajarkan Bung Karno kepada generasi demi generasi…’Mencintai Indonesia’………

Jakarta, 12 Juni 2012

-Anton DH Nugrahanto-.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s