Dia Bukan Pengemis Gelar

oleh : Junius Fernando Saragih

Pejuang tidak pernah berpikir akan
pengakuan, mereka hanya ingin sebuah
perubahan di masa depan
mereka hanya tahu bahwa hari ini adalah penindasan
esok akan jadi hari cerah bagi anak cucu (JFS)

Pertama kali mendengar namanya dari seorang ketua organisasi yang membagikan deskripsi sosok pahlawan yang kalah dalam sejarah. Ditambah coretan sang sastrawan Pramoedya Ananta Tour. Namanya asing bahkan sepertinya tak pernah terlintas dalam benak ini setelah lama dicekokin tentang kisah panjang bangsa ini. Dia adalah R.M. Tirto Adhi Soerjo yang diuraikan cukup panjang oleh Mas Pram dalam bukunya “Sang Pemula”. Mengapa Sang Pemula, tak tahu pastinya. Mungkin kita bisa interpretasikan sendiri setelah mengenal sosok sang pemula yang satu ini.

Djokomono begitu panggilan akrabnya saat masih bocah. Dia adalah seorang keturunan bangsawan atas yang pada saat itu terbentuk karakternya oleh keberanian neneknya dalam melawan kaum kolonial akan ketidakadilan yang dialami suaminya, seorang Bupati Bojonegoro kala itu. Pencabutan jabatan Bupati dari kakeknya yang dirasa tanpa alasan yang jelas tidak justru membuat neneknya menerima begitu saja. Kala haknya tidak diakui, nenek dari R.M. Tirto Adhi Soerjo lebih memilih hidup tanpa bantuan Pemerintah Kolonial.

Situasi yang kurang mengenakkan bagi seorang keturunan bangsawan jelas dirasakan oleh Tirto. Masa kecilnya tidak sepenuhnya membangkitkan minat beliau untuk menuangkannya dalam tulisan-tulisannya kelak.

Setelah neneknya meninggal, masa pendidikan dasarnya terbilang melelahkan, dia harus nomaden dari tempat sepupunya R.M.A. Brotodiningrat Bupati Madiun kemudian ikut abangnya R.M. Tirto Adi Koesoemo, Jaksa Kepala di Rembang. Selesai SD, dia tidak memilih sekolah pegawai negeri yang biasa menjadi lahan didik bagi kaum bangsawan sepertinya. Dia melanjutkan pendidikannya di STOVIA sekolah dokter yang identik dengan pengabdian, bukan seperti sekolah pegawai negeri yang akan menempah ahli memerintah.

STOVIA yang letaknya di Betawi, kala itu membawanya lepas dari aturan ketat ningrat-priyayi dan mulai ikut bergaul dengan rakyat biasa. Keadaan inilah yang mungkin membuatnya fasih berbahasa Melayu-Betawi. Kemampuannya yang mudah menyerap bahasa ditunjukkan lewat kiriman tulisan-tulisannya ke surat kabar terbitan Betawi kala masih dalam kelas persiapan sekitar usia 14-15 tahun.
Meski menempuh pendidikan dokter, karunia menulisnya tidak justru terhambat. Karir menulis Tirto Adhi Soerjo dimulai dengan membantu Chabar Hindia Olanda disambung membantu Pembrita Betawi dan Pewarta Priangan (terbitan Bandung). Itu semua adalah surat kabar yang merupakan terjemahan dari surat kabar kolonial. Sebelum tahun 1900 dijelaskan bahwa belum ada Pers yang murni Pribumi.

Minat akan jurnalistik semakin membawa jiwanya untuk aktif mewartakan karya-karyanya. Merilis Soenda Berita sebagai media cetak pertama yang menggunakan bahasa melayu, dibiayai mandiri oleh pribumi dan bukan terjemahan dari koran belanda pada masa itu merupakan bagian pertunjukannya. Kemudian RM. Tirto Adhi Soerjo pun mendirikan suatu media baru, Medan Prijaji yang juga berbahasa melayu. Medan Prijaji yang dibentuk lewat usulan Sarekat Prijaji inilah yang mulai membuka wacana politik, berbeda dengan Soenda Berita yang masih enggan untuk berbicara politik. Istilah ‘nation’ atau bangsa pun mulai ditebarkan. Lewat media ini pulalah, beliau membuka peluang bagi kaum wanita yang pada saat itu sangat jauh dari dunia akademis untuk ikut juga memberikan pemikirannya lewat tulisan-tulisan. Ini merupakan suatu pertanda bahwa Tirto merupakan salah satu pendukung emansipasi wanita yang juga diperjuangan oleh RA. Kartini.

Melalui medan prijaji yang dimilikinya, RM. Tirto Adhi Soerjo juga kerap kali membeberkan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh bupati-bupati dan penguasa lewat investigasi yang dibuatnya. Dan tidak jarang beliau menjadi saksi kunci dalam persidangan yang tentunya sebenarnya mengancam keamanan dirinya sendiri. Gelar bangsawannya tak jarang dijadikan sebagai pendorong untuk berani melawan karena memang pada saat itu hukuman terberat bagi kaum bangsawan berbeda dengan orang biasa yang bisa saja dihukum mati.

Media cetak berbahasa melayu yang dirilis oleh Tirto dapat dipahami karena memang pada saat itu bahasa yang cukup populer dan banyak digunakan adalah bahasa melayu. Beliaulah yang pertama kali membuat media berbahasa lebih umum agar pemahaman dan informasi itu dapat tersalurkan ke semua kalangan masyarakat. Bila ditinjau kembali, ini bisa kita pahami menjadi awal pergerakan yang akan membuka gerbang penyadaran akan kondisi nusantara kala itu.
Pergerakan seorang Tirto tidak terbatas pada gerak media massa melainkan juga menanamkan roda pergerakan lewat organisasi buatannya yang lebih bersifat nasional. Organisasi pertama yang didirikannya adalah Sarekat Prijaji yang beranggotakan para kaum Priyayi. Di sinilah istilah bangsa menjadi bahasan penting dan diusahakan untuk menebar jalanya. Sarekat Dagang Islam yang memang lebih mengarah pada bidang ekonomi menjadi bentukan Tirto yang berikutnya, yang pada saat itu serikat yang berbau politik masih bersifat sporadis dan cederung mendapat pengawalan ketat dari kolonial.

Masa kelam dan kejatuhan Medan Prijaji diawali oleh berita terakhirnya tentang penyalahgunaan kekuasaan bupati Rembang, yang akhirnya membawanya pada hukuman pembuangan ke Ambon. Medan Prijaji yang ditinggalkannya mengalami masalah keuangan dan dinyatakan bangkrut.

Selepas menyelesaikan hukuman dan kembali dari Ambon, tidak lama kemudian antara tahun 1914-1918, beliau sakit-sakitan dan akhirnya meninggal pada 7 Desember 1918.

Beliau dimakamkan di Manggadua, Jakarta kemudian dipindahkan ke Bogor tahun 1973. Di nisannya tertulis: “Perintis Kemerdekaan; Perintis Pers Indonesia”. Layaklah ia disebut sebagai Bapak Pers Nasional.
Meski banyak yang awam akan nama dan perjuangannya, dan mungkin banyak yang tidak pernah mengakuinya, saya rasa saat berjuang dia tidak pernah mengharapkan sebuah gelar dan penghargaan.

Butuh keberanian dan patriotisme besar untuk bisa keluar dari kenyamanan seorang bangsawan dan turun menjadi pejuang yang selalu dibenturkan dengan perihnya penindasan.

Disarankan untuk membaca buku Pramoedya Ananta Tour, “Sang Pemula”
Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD

*diposting di: http://gelasisi.wordpress.com/2011/07/25/dia-bukan-pengemis-gelar/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s