Kala Sang Harimau jadi Mangsa

Oleh : Junius Fernando S Saragih*

            Sudah bukan rahasia bila keberadaan KPK sebagai institusi superbody merupakan antitesis dari ketidakberdayaan institusi penegak hukum seperti Polri dan Kejagung dalam menangani tindak pidana korupsi para elit. Dalam artian KPK merupakan tim ad hoc yang suatu ketika akan didemisionerkan bila saja institusi Polri dan Kejagung telah menunjukkan itikad baik dalam menangani kasus korupsi yang tak kunjung menemukan hilirnya.

Dengan semangat baru disertai dukungan dan kepercayaan besar masyarakat sudah tidak diragukan lagi aksi panggung KPK yang tidak pandang bulu menerjang penjuru titik rawan pelanggaran besar itu. Track record KPK yang memukau masyarakat seakan menaikkan pamor seorang SBY sebagai pelopor negeri anti korupsi.

Manuver institusi KPK yang mulai tidak mengenal lelah, perlahan-lahan menjadikanberang beberapa oknum elit kita. Hingga tak dapat dipungkiri berbagai tantangn baru mulai muncul kepermukaan. Tak tanggung-tanggung alhasil cerita pahit mantan ketua KPK yang kini mendekam di balik jeruji.

Ketika kepercayaan diri masyarakat Indonesia mencapai puncak tertinggi akan suksesnya pemberantasan koruptor-koruptor di negeri ini. Dan KPK telah sukses menarik perhatian masyarakat domestik bahkan luar negeri. Seketika pula bangsa ini dikagetkan dengan kabar miring aktor-aktor penting KPK. Tak tanggung-tanggung empat pejabat KPK dituding menerima uang dan melakukan rekayasa kasus oleh mantan politisi Demokrat Nazaruddin.

Meski belum dapat dibuktikan secara jelas, nyanyian Nazaruddin ini langsung menarik perhatian para anggota DPR. Suara sumbang dari lorong seorang politisi Partai Demokrat sekaligus Ketua DPR RI Marzuki Ali mulai melontarkan tanda untuk membubarkan KPK bila saja tidak ada lagi yang kredibel yang mampu memimpin jalannya tugas KPK.

KPK merupakan lembaga yang superbody. Hal ini juga menjadi alasan untuk salah seorang politisi Ahmad Fauzi juga pernah melontarkan pernyataan untuk merevisi UU KPK dan bahkan bila perlu membubarkannya.

Namun dari sudut berbeda Ketua Komisi III DPR RI, Tjatur Sapto Edy  justru menepis usulan pembubaran KPK. Tjatur justru merasa bahwa kesalahan oknum KPK tidak bisa dibawa sampai pada pembubaran KPK sebagai lembaga ad hoc yang telah banyak menelurkan kinerja positif dalam pemberantasan korupsi di negeri ini.

Kebenaran akan tudingan terhadap empat pejabat KPK belum menjadi sebuah kebenaran umum, sehingga hanya perlu pembuktian terlebih dahulu. Seharusnya kita lebih cerdas dalam menaggapi kasus seperti ini. Kasus kriminalisasi terhadap KPK juga penting untuk dijadikan pelajaran. Jangan sampai kejadian itu terulang kembali.

*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad

*diposting di: http://gelasisi.wordpress.com/2011/07/29/kala-sang-harimau-jadi-mangsa/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s