Kampus (Jadi) Pelopor Transparansi

Oleh : Junius Fernando S Saragih*

Kerap kali terdengar di telinga kita, bahwa kampus merupakan miniaturnya negara. Di samping kampus yang dinamis dalam hal student governance-nya, segala mekanisme yang diterapkan di dalam wilayah kampus masih erat dengan tradisi penyelenggaraan pelayanan negara dewasa ini. Relasi antar dosen dan mahasiswa, prosedural birokrasi kampus, hingga pada organisasi internal kampus yang populer dengan istilah ‘dari, oleh, dan untuk mahasiswa’, juga masih menyimpan tanda tanya besar dalam hal transparansi.

Mahasiswa yang dikenal kritis dan disandangkan beban berat sebagai agen of chance,tidak sepenuhnya bisa menjadikannya kuat dalam internal kampus. Bila aksi dan orasi berupa kritikan akan carut marutnya kondisi multidimensi bangsa dan negara selalu menjadikan mahasiswa di garda terdepan. Ternyata tidak demikian lurusnya bila dibandingkan ketika mahasiswa berada di kandang sendiri.

Di tengah-tengah dengungan transparansi akan penyelenggaraan negara, ternyata dalam tataran sederhana kampus mengenai transparansi nilai masih belum sepenuhnya menyentuh sudut-sudut kampus dan universitas di negeri ini. Posisi tawar seorang mahasiswa masih saja berada di bagian bawah. Artinya masih belum ada kesetaraan yang memungkinkan dosen dan mahasiswa duduk sama rendah dalam menyampaikan transparansi penghitungan nilai.

Tentunya ketika mahasiswa tidak mampu menerima kalkulasi yang jelas akan hasil dari usahanya, yang terjadi adalah ketidakpuasan psikologis. Ekspektasi yang tidak sesuai dengan kenyataan inilah yang akan memicu preseden buruk bagi para generasi baru yang nantinya akan terjun dalam ruang publik. Tidak sedikit yang berontak dan hanya mendapatkan Surat Peringatan atau bahkan menelan pil DO dari kampus atau Universitas.

Tidak hanya itu, sistem SKS yang diterapkan diberbagai Universitas tak pelak juga memaksa mahasiswa untuk memlih diam dan berusaha mengejar gelar kelulusan dalam tempo singkat. Membangun individualitas dan tidak lagi memikirkan sistem buruk itu bila saja tidak menyentuh ranah pribadinya.

Bila kita mengacu kepada esensi pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia, tentunya ada beberapa kontradiksi yang dipertontonkan melalui sendi-sendi penghubung antara pendidik dan yang dididik dewasa ini. Bila masih saja kita menemukan pendidik yang tidak mampu memberi pertanggungjawaban akan nilai yang diberikannya pada seorang mahasiswa, tentunya sudah tidaklah layak beliau dijadikan seorang pengemban humanisasi pendidikan.

Transparansi yang diperjuangkan dalam tataran negara sudah sepantasnya juga mengalir hingga tataran kampus. Hal ini juga tidak hanya kan menguntungkan mahasiswa sebagai aktor intelektual kita, melainkan sekaligus mampu membersihkan para pendidik yang tidak bertanggung jawab akan amanahnya sebagai seorang dosen.

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad

*diposting di: http://gelasisi.wordpress.com/2011/07/29/kampus-jadi-pelopor-transparansi/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s