Menggugat Parpol “Jasa Tahta”

Oleh : Junius Fernando S Saragih

 Sudah cukup banyak deretan cerita miring tentang partai politik yang semakin menambah alasan publik untuk tidak lagi percaya kepada partai (anti partai). Dan anehnya lagi, tampaknya beberapa partai semakin tidak percaya diri lagi akan kualitas yang mereka tawarkan seperti ideologi partai dan konsep real mencapai negara sejahtera yang mereka miliki. Pernyataan tersebut tentu bukan hal yang berlebihan. Karena apa yang dipertontonkan oleh partai-partai politik di negeri kita, sudah cukup untuk menjelaskannya.

Fenomena artis masuk parpol atau parpol rekrut artis sudah tidak asing bagi publik. Minimalnya pendidikan politik masyarakat kita telah dimanfaatkan dengan baik oleh parpol. Keberhasilan dua artis seperti Rano Karno dan Dede Yusuf di lembaga eksekutif daerah dan beberapa lainnya yang menduduki kursi legislatif menjadi preseden yang semakin membangkitkan semangat parpol lain untuk ikut serta mencontohnya.

Dengan tidak meremehkan kapabilitas seorang artis, dan juga karena dipilih dan memilih merupakan hak dasar sebagai warga negara. Kita tidak mempunyai hak untuk menghakimi para artis yang hijrah ke dunia politik. Tetapi ketika keinginan ini justru datang dari parpol dan kini tidak lagi mempertimbangkan kapabilitas politik. Ini menjadi sebuah kekeliruan dalam berpolitik. Demokrasi tentu tidak membenarkan parpol hanya mengeksploitasi popularitas dan indahnya lekuk wajah dan tubuh sang artis tentunya.

Kemudian kini kita dihadapkan kembali pada pertunjukan serupa tapi tak sama. Kehadiran Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) yang mendukung mantan mentri keuangan Sri Mulyani seakan ingin mencoba peruntungan yang sama seperti Partai Demokrat pada pemilu 2004 lalu. Serta partai politik lainnya yang mulai disibukkan dengan menghitung-hitung dan merapatkan tokoh politik partai. Ditambah lagi beberapa tokoh politik yang merasa mampu menjajakan dirinya dengan berpindah-pindah parpol menambah daftar panjang keraguan publik akan kredibilitas dan ideologi parpol serta kader-kadernya.

Kondisi demikian sering kali dijadikan warisan bagi stakeholder perpolitikan kita. Bagi beberapa tokoh politik hanya menjadikan parpol sebagai alat pemuas hasrat pragmatisnya demi sebuah kekuasaan. Saya menduga parpol dewasa ini hanya menjadi perusahaan jasa politik yang akan seenaknya saja digunakan atau ditinggalkan oleh tokoh politik yang ingin berebut tahta.

Lantas pertanyaan yang muncul adalah apakah parpol kini telah kehilangan pamor dan kepercayaan diri? Ataukah kini parpol sudah memejamkan mata akan sebuah proses yang harus dijalani seorang politisi sehingga kini kekuasaan menjadi alasan untuk menerobos etika normatif dari parpol itu sendiri? Tentunya kita memahami bahwa realita parpol yang berada di ujung kebobrokan sudah seharusnya diputus tali masalahnya.

Deideologisasi dan Derepresentasi Parpol

            Ciri khas yang dapat membedakan antara masing-masing partai politik adalah ideologi partai itu sendiri. Marx dalam teorinya menyatakan bahwa tataran yang membangun dunia politik yang bersifat hierarkis yang paling utama (superstruktur) adalah tataran ide, konsep, gagasan, atau keyakinan, yang akhirnya disebut sebagai ideologi. Sehingga semakin aneh bila saja partai politik saat ini hanya bisa kita bedakan dengan lambangnya saja, karena hampir semua parpol di negeri ini kabur akan ideologi.

Kondisi yang kita pahami mengenai parpol masa kini, yang telah keluar dari jalur etika partai politik diakibatkan adanya deideologisasi akan partai politik itu sendiri. Kekuatan tokoh dan pemilik modal telah mengangkangi ideologi yang seharusnya dijadikan superstrukstur dari parpol tersebut.

Pada prinsipnya ideologi akan menjadi ruh dari partai itu sendiri. Ideologi dapat diibaratkan sebagai sebuah bahasa yang akan digunakan untuk memanggil. Tentunya hanya orang yang memahami bahasa tersebutlah yang akan mendengarkan panggilan tersebut. Bila prinsip ini telah dikedepankan maka sudah barang tentu kita tidak akan melihat lagi fenomena elit politik yang senang berpindah-pindah parpol.

Saya telah menduga bahwa parpol saat ini ibarat perusahaan jasa yang dijadikan mobil politik untuk elit pengejar tahta, tentunya itulah sebuah penyimpangan masif yang terjadi saat ini. Preseden ini yang telah membawa masyarakat kita mencibir dan menghina politik. Mereka tidak lagi melihat hakikat politik sebagai usaha mencapai kesejahteraan, yang ada dalam bayangan mereka politik hanya ingin mencapai tahta, harta, dan wanita.

Dalam setiap kampanyenya tidak jarang kita mendengar parpol mengatasnamakan rakyat dan selalu saja mengumbar janji kosong untuk memperjuangkan nasib rakyat. Tapi dalam kenyataannya, parpol justru jauh dari rakyat. Ekslusifitaslah yang kerap kali ditunjukkan. Rakyat hanya dijadikan tameng kekuasaan dan lagi-lagi kepentingan rakyat ditebas keterwakilannya. Sehingga semakinlah kita memahami bahwa partai saat ini sudah tidak lagi mengamini keberadaannya sebagai representasi rakyat.

Dalam wilayah demokrasi, menghambat tumbuh kembangnya kuantitas partai menjadi sebuah kelaliman. Namun, penting untuk dipahami yang dikedepankan adalah kualitas. Kualitas yang ditawarkan parpol adalah ideologi parpol itu sendiri. Artinya tidak perlu ragu untuk merapikan kembali sistem kepartaian minim kualitas yang semakin gemuk. Sangguh sebuah kekeliruan bila saja kita membiarkan partai-partai tanpa ideologi yang jelas berkeliaran di dalam dunia demokrasi Indonesia.

             Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad

*diposting di: http://gelasisi.wordpress.com/2011/08/04/parpol-perusahaan-jasa-politik/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s