Negeri Para Pengutuk

Indonesia di usianya yang ke-66 tahun, seperti biasanya setiap menjelang hari perayaan kemerdekaan, media kerap diramaikan dengan esai, editorial, dan opini pedas akan kondisi bangsa kita yang dirasa ekstrim jatuh dalam lubang kebobrokan. Tidak cukup sekedar menggambarkan, tulisan demi tulisan dominan memberi kritik yang sering kurang membangun. Cacian, hinaan, dan bahkan mengarah pada kutukan tidak jarang dipertontonkan melalui media.

Ketidakpercayaan bangsa akan pemuka negara dan para penyelenggaranya mulai dikeluarkan dalam bentuk yang bermacam-macam. Ironisnya, produk-produk berupa hinaan dan kutukan ini jamak diterima masyarakat. Hal ini seakan menjadi sesuatu yang unggul sehingga banyak diburu konsumen media. Dan, tidak sedikit dari peneliti dan intelektual kita senang berperan sebagai kritikus pedas yang sering dibumbui lelucon untuk mengolok-olok kondisi negeri ini. Karena ini mampu menarik perhatian masyarakat banyak, bangunan opini pun mulai digelontorkan, dan beberapa diantara pakar dan pengamat mendapat dana yang lumayan untuk peran mereka yang antagonis.

Awalnya kita mungkin berharap besar bahwa negeri ini akan semakin berkaca dan mengubah kebobrokannya dengan banyaknya kritik yang serius maupun guyonan yang dipertontonkan di sudut-sudut media masyarakat. Namun, sudah cukup lama kita akrab dengan bahasa pedas maupun bahkan guyonan yang menggoyang dunia politik. Tapi negeri ini justru semakin nyaman dengan kecarutmarutannya dan kritik demi kritik yang dilontarkan hanya sebagai pemanis teatrikal yang ada.

Lantas, apakah sebenarnya permasalahan mendasar bangsa dan negeri ini hingga masih melanggengkan kemudaratannya? Dahulu korupsi juga merajalela tanpa kritikan, namun kini ketika suara telah bebas menguap, korupsi juga malah mengembang tak terkendali. Apakah kita dapat menilainya dari kebebasan berpendapat hingga moralpun tidak lagi bisa terlihat batasannya?

Meminjam pepatah bahwa perkataan adalah doa, akhirnya timbullah asumsi bahwa negeri ini menemukan kebobrokannya akibat doa dari masyarakatnya. Setiap caci maki, hinaan, dan berbagai kritikan yang cenderung mengolok-olok akhirnya hanya menjadi doa yang menjadikan negeri ini terkena kutuk bangsa sendiri.

Kebebasan berbicara yang kita amini sebagai dampak demokratisasi yang luhur kini menemukan persimpangan. Di satu sisi kebebasan ini memberikan ruang publik untuk memberikan peran dalam penyelenggaraan pemerintah dan membatasi nafsu kotor pemerintah. Namun, di satu sisi pula kebebasan ini justru disalahgunakan dengan tidak mengedepankan moral dan etika berbicara. Masyarakat bebas berbicara, menghina, dan mengolok-olok yang pada zaman orde baru kita kenal dengan istilah simbol negara. Pemerintah dan pemimpin bangsa ini sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang diagung-agungkan. Menghina presidenpun sudah tidak dinilai halal dan haramnya.

Keran yang dibuka lebar tidak lagi mampu menyaring kotoran-kotoran yang ada. Kita dipaksa akrab mendengar sesuatu yang tidak pantas didengar baik orang dewasa maupun anak-anak yang kelak menjadi generasi penerus negeri ini.

Ahli psikologi mengakui bahwa seorang anak akan cenderung meniru tingkah laku orang tuanya. Mungkin hal inilah yang kini kita alami. Kebiasaan yang buruk yang dipertontonkan dan akrab diperdengarkan bagi generasi baru kita cenderung membentuk karakter mereka. Bila setiap membaca buku, media cetak, dan menonton televisi yang ditemukan hanya cacian akan negeri ini, maka mindset yang terbentuk adalah citra negatif negeri. Sehingga, menjadi tidak aneh ketika generasi baru kita dominan apatis dan lebih memilih hura-hura ketimbang berbicara tentang idealisme.

Kebobrokan seperti tindak korupsi, kriminalitas, dan penyalahgunaan kekuasaanpun akan menurun pada generasi berikutnya dan sangat dimungkinkan akan timbul inovasi-inovasi yang akan menambah carut-marutnya negeri ini. Akar musababnya adalah ketidakbenaran yang mereka lihat dan mereka merasa tidak ada gunanya lagi berbicara tentang nasionalisme, idealisme, patriotisme, dan integritas. Sehingga benarlah bila dikatakan bahwa senjata ampuh untuk membuat generasi muda anti politik, negara, dan pemerintahan adalah dengan menunjukkan politik, pemerintahan, dan negara yang kotor penyelenggaraannya.

Bagi kita yang mencintai bangsa dan negeri ini, sudah sepantasnya kita tidak melulu memberi cacian dan menertawai negeri kita sendiri. Apalagi kita senang melakukannya dengan imbalan popularitas dan juga bayaran yang mahal. Sudah saatnya negeri ini kita lepaskan dari ikatan bangsa omong kosong, yang hanya mampu melakukan kritik tanpa tindakan dan implementasi. Memaknai kemerdekaan yang diwariskan oleh pejuang-pejuang kita dengan bayaran darah bahkan nyawa, hanya dapat kita lakukan dengan aksi dan tindakan kita yang mampu menghapuskan ketidakberesan negeri ini. Kebobrokan cukup berhenti pada generasi ini, jangan biarkan turun-temurun membelenggu negeri ini. Merdeka !!!

Junius Fernando S Saragih

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unpad

diposting di: http://gelasisi.wordpress.com/2011/09/10/negeri-para-pengutuk/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s