Bung Karno Dan Zhou Enlai

Sukarno y Zhou Enlai

Saya belum pernah menonton film “Enlai In Bandung”. Alangkah berbahagianya saya, seorang penggemar Zhou Enlai, bila sempat menyaksikan film tersebut. Apalagi, di film itu, katanya, Zhou Enlai bertemu dengan Bung Karno—seorang tokoh yang juga menjadi kebanggan saya.

Ada kesamaan diantara dua tokoh ini: sama-sama anti-kolonialisme dan anti-imperialisme. Keduanya juga menganut marxisme dan mempergunakannya sebagai senjata perjuangan. Dan, satu lagi yang paling penting: kedua-duanya mendambakan sosialisme menurut karakter/kekhususan negeri masing-masing.

Zhou Enlai, seperti juga Soekarno, lahir dari keluarga kalangan atas. Ah, Marx dan Lenin juga anak dari keluarga menengah. Berkat itu, Zhou bisa menikmati pendidikan di luar negeri: Jepang dan Perancis. Sedangkan Soekarno tidak pernah sekolah di luar negeri. Meski begitu, Soekarno banyak menyerap pemikiran-pemikiran progressif dari barat.

Zhou Enlai, yang haus gagasan baru, menemukan kesempatan itu saat belajar di kota Tianjin. Sedangkan Soekarno sangat beruntung bisa indekos di rumah seorang tokoh terkemuka kaum pergerakan, HOS Tjokroaminoto. Soekarno sering menyebut masa indekos di rumah pemimpin Sarekat Islam (SI) itu sebagai universitas politiknya.

Zhou Enlai terjun dalam pergerakan melalui majalah New Youth. Koran ini menjawab kerinduan kaum muda Tiongkok saat itu akan gagasan-gagasan radikal. Terlebih, pada tahun 1915-1916, ada kekecewaan besar kaum revolusioner atas kegagalan Republik Sun Yat Sen.

Sedangkan Soekarno bergabung dalam Tri Koro Dharmo di Surabaya. Ia juga aktif dalam studieclub-studieclub yang banyak berdiri saat itu. Soekarno muda mulai menuankan gagasan-gagasannya di koran pergerakan milik SI, Oetoesan Hindia.

Zhou mengenal marxisme dari majalah New Youth. Pengasuh koran ini adalah dua orang marxis, Li Dazhao dan Che Duxui. Keduanya juga menjadi tokoh pendiri Partai Komunis Tiongkok (PKT). Sementara Soekarno, menurut pengakuannya, mengenal marxisme lebih banyak dari seorang tokoh SI yang sudah terpengaruh marxisme, yakni Alimin.

Zhou Enlai menjadi anggota PKT. Ia, yang pada tahun 1920-an masih di Eropa, ditugas membangun sel PKT di sana. Uniknya, saat masih di eropa, Zhou juga terlibat di partai Koumintang. Han Suyin, penulis biografinya, menulis, “Ia harus merekonsolidasi dua partai yang berbeda, menemukan landasan kerjasama di tengah pertentangan.”

Itulah aspek penting dari seorang Zhou Enlai. Ia berhasil menggabungkan antara ketajaman analisa, kepandaian bernegosiasi dan kesabaran revolusioner. Tak heran, CC PKT menunjuknya sebagai petugas front persatuan dengan PKT.

Di Indonesia, pada tahun 1926, seorang Soekarno menulis tesisnya tentang pentingnya persatuan tiga aliran utama dalam gerakan anti-kolonial di Indonesia: islamis, nasionalis, dan marxis. Tulisan Soekarno ini sangat berpengaruh kuat dan menjadi pegangan politiknya hingga akhir hayatnya.

Di PKT, bersama dengan Mao Tse Tung, Zhou memperlakukan marxisme bukan sebagai dogma. Mao dan Zhou sepakat bahwa, di Tiongkok, marxisme harus diterapkan berdasarkan karakteristik yang spesifik dari Tiongkok. Keduanya pun menolak disetir oleh Moskow.

Soekarno juga menemukan semangat yang sama. Perkembangan kapitalisme di Indonesia sangat berbeda dengan Eropa: di eropa perkembangan industri benar-benar ”zuivere industrie” (industri murni), sedangkan di Indonesia sekitar 75% masih onderming (perkebunan). Hal itu membawa konsekuensi: di Indonesia hampir 90% rakyatnya adalah marhaen—orang kecil dengan milik kecil, dengan alat-alat produksi kecil, dan hasilnya pun cukup untuk dirinya sendiri. Sedangkan di eropa mayoritas adalah proletar murni. Inilah dasar kelahiran Marhaenisme!

Yang agak berbeda adalah: Zhou Enlai setia pada satu istri hingga akhir hayatnya. Deng Yingchao, nama istrinya, adalah kawan seperjuangannya di partai. Sedangkan Bung Karno punya istri banyak. Ini pula yang sering dijadikan senjata oleh lawan-lawan politik untuk mendiskreditkannya.

*****

Pada tahun 1955, Zhou Enlai bertemu Soekarno di Indonesia. Inilah konferensi Asia-Afrika (KAA), di Bandung, tahun 1955. Hadir pula pemimpin-pemimpin anti-imperialis seperti Gamal Abdul Nasser (Mesir), Jawaharlal Nehru (India), dan Norodom Sihanouk (Kamboja).

Zhou Enlai, yang sedianya menumpang pesawat Khasmir Princess, selamat dari upaya serangan bom terhadap dirinya dan delegasi Tiongkok. Enlai tidak menumpang di pesawat itu. Ia justru menumpang pesawat KLM Belanda di Rangon, Burma, dan terbang ke Indonesia.

Di Jakarta, pada 16 April 1955, Enlai tiba di Jakarta. Dengan mengenakan pakain musim panas, ia disambut ribuan orang. Di kedubes Tiongkok di Jakarta, Enlai bertemu dengan orang-orang Tiongkok yang menunggunya.

18 April 1955 Konferensi dimulai. Bung Karno membuka acara yang dihadiri oleh 29 negara Asia-Afrika tersebut. “Kita dipersatukan…oleh kebencian bersama kepada kolonialisme dalam segala penjelmaannya. Kita dipersatukan oleh rasa kebencian bersama kepada rasisme. Dan akhirnya, kita dipersatukan oleh tekad kita bersama untuk mempertahankan dan memperkuat perdamaian di seluruh dunia,” kata Soekarno.

Enlai menampakkan kepiawainnya sebagai diplomat ulung di pertemuan itu. Ia tetap tenang menghadapi provokasi anti-komunis yang disuarakan oleh delegasi Filipina, Jepang, Vietnam Selatan, Srilanka, dan Pakistan.

Begitu diberi kesempatan berbicara, Enlai langsung mengatakan: “Delegasi Tiongkok datang dengan tujuan mencari persatuan, bukan untuk mencari perselisihan. Tidak ada gunanya menyodorkan ideologi atau perbedaan diantara kita. Kita datang kemari untuk menemukan persamaan pandangan.”

Enlai menguraikan tentang Asia dan Afrika yang didera oleh kolonialisme. Ia menyerukan pentingnya persatuan. Tetapi Zhou harus berterima kasih kepada Bung Karno. Sebagai pemimpin negara besar, sekaligus mewakili suara negeri-negeri terjajah, Soekarno terus menyerukan anti-kolonialisme dan anti-imperialisme.

KAA berjalan sukses. Inilah konferensi anti-kolonial dan anti-imperialis pertama yang menyatukan Asia dan Afrika. Semangat Asia-Afrika di bandung 1955 terus berkobar hingga sekarang.

Sejak itu, Bung Karno sering bertemu dengan Enlai. Sebagai kelanjutan dari semangat Asia-Afrika yang sedang bangkit, ditambah pertumbuhan dari kubu sosialis, Bung Karno merumuskan NEFO (New Emerging Forces) sebagai antitesa terhadap OLDEFO(Old Established Forces).

Soekarno mendefenisikan NEFO sebagai berikut: “satu kekuatan raksasa yang terdiri dari bangsa-bangsa dan golongan-golongan progresif yang hendak membangun satu Dunia Baru yang penuh dengan keadilan dan persahabatan antar-bangsa…yang penuh dengan perdamaian dan kesejahteraan…tanpa imperialisme dan kolonialisme dan exploitation de l’homme par l’homme et de nation par nation.

Enlai tetap dikenang oleh rakyat Tiongkok sebagai bapak bangsa. Banyak ide-ide Zhou Enlai menjiwai kemajuan Tiongkok saat ini. Sedangkan Bung Karno, yang selama puluhan tahun coba dikuburkan oleh rezim orde baru, tetap ditempatkan oleh rakyat Indonesia sebagai bapak bangsa. Banyak gagasan Bung Karno yang justru menemukan relevansinya saat ini.

TIMUR SUBANGUN, Kontributor Berdikari Online

*) diposting di: http://www.berdikarionline.com/bung-karnoisme/20120412/bung-karno-dan-zhou-enlai.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s