Bung Hatta dan Partai Kader

Hatta329 Desember 1929, Soekarno dan tiga kawannya—Maskoen Sumadiredja, Gatot Mangkoepraja, dan Soepriadinata—ditangkap penguasa kolonial. Soekarno dan partainya, PNI (Partai Nasional Indonesia), dituding sedang mempersiapkan sebuah pemberontakan.

Maklum, penguasa kolonial masih trauma dengan gerakan massa. Dua tahun sebelumnya, tepatnya 1926-1927, sebuah organisasi massa melakukan pemberontakan di Jawa dan Sumatera. Pemberontakan itu memang bisa dipatahkan. Akan tetapi, gara-gara pemberontakan itu kaum pribumi makin berani melawan.

Namun, penangkapan terhadap Soekarno berakibat buruk terhadap PNI. Partai ini seperti “anak ayam kehilangan induknya”. Akhirnya, pada tahun 1930, Sartono—yang sedang menjadi ketua—membubarkan partai berlambang banteng tersebut.

Pembubaran partai ini menuai kontroversi. Bung Hatta, salah seorang anggota PNI yang baru pulang menimbah ilmu di negeri Belanda, menyatakan ketidaksetujuan dengan keputusan pembubaran itu.

Bagi Bung Hatta, tindakan pembubaran itu sama saja dengan “harakiri” dalam perjuangan. Belum lagi, ada kesan pimpinan PNI kala itu sangat takut direpresi dan ditindas oleh penguasa kolonial. Padahal, bagi Hatta, apa  yang diderita PNI belum sebanding dengan penderitaan yang dirasakan oleh PKI tahun 1926/27.

Bung Hatta—bersama Bung Sjahrir—mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI). Sering juga disebut PNI-baru. Sebagian besar anggota PNI baru berasal dari ‘golongan merdeka, yaitu para aktivis studieclub. Sedangkan sebagian pimpinan PNI, termasuk Sartono, mendirikan partai lain bernama Partai Indonesia (Partindo).

Ketidaksetujuan Hatta tentang pembubaran PNI menciptakan polemik baru: perdebatan lebih mendalam soal organisasi perjuangan–Partai. Hatta pun mulai menggugat konsep kepartaian PNI mengenai garis-massa. Bagi Hatta, partai tidak bisa  menonjolkan kuantitas (jumlah), melainkan kualitas. “Partai tak seharusnya tidak bergantung pada agitasi, tapi pada pencarian kader yang kuat,” kata Bung Hatta.

Saat itu, ruang gerak pergerakan nasional sedang dibatasi. Penguasa kolonial mengontrol setiap pertemuan. Banyak pemimpin pergerakan yang ditangkap karena dianggap menghasut kebencian terhadap pemerintah. Setiap propagandis harus punya surat jalan dari penguasa kolonial.

Pergerakan sedang dalam rintangan. Bagi Hatta, dalam situasi seperti itu, tugas utama partai adalah mendidik rakyat. Hatta dalam tulisannya di Daulat Rakjat, 20 September 1932, mengatakan, “dengan agitasi mudah membangkitkan kegembiraan orang banyak, tetapi tidak membentuk fikiran orang.” Belum lagi, kegembiraan massa itu bisa hilang dalam sekejap.

Bagi Hatta, agitasi itu hanya pembuka jalan, sedangkan “didikan/kaderisasi” merupakan pembimbing massa rakyat untuk menyelami lebih banyak seluk-beluk berorganisasi. Dengan kaderisasi, partai akan menjadi kuat.

Bung Karno tak setuju dengan gagasan Hatta ini. Kata Bung Karno, mendidik rakyat agar cerdas memerlukan waktu bertahun-tahun. “Jalan yang Bung tempu baru akan tercapai kalau hari sudah kiamat,” kata Bung Karno.

Bagi Soekarno, politik adalah soal machtsvorming dan machtsaanwending—pembentukan kekuatan dan penggunaan kekuatan. Dengan tenaga—massa—yang terhimpun, partai bisa mendesak musuh ke pojok dan menjatuhkannya.

Selain mengeritik “garis-massa”, Hatta juga tak setuju dengan ‘sentralisme-terpusat’. Bagi Hatta, dengan mencontek pengalaman PKI dan PNI, jika pimpinan pusat dihancurkan, maka cabang, resort, dan anggota akan turut hancur. Sebab, segala-galanya bergantung pada ‘keputusan pusat’.

Oleh karena itu, Bung Hatta menganjurkan perpanduan sentralisme dan otonomi badan-badan lokal. Di sini, partai di tingkat loka diberi keleluasan bekerja dan bergerak. Akan tetapi, aktivitas itu tidak boleh berlawanan garis-garis umum yang sudah diputuskan kongres partai.

Hatta beranggapan, model partai semacam ini akan lebih fleksibel dalam menangkis serangan tiba-tiba dari musuh. Ketika sebagian besar pimpinan ditangkap, maka partai di tingkat lokal masih terus bergerak.

Selanjutnya, soal kewajiban anggota partai, Hatta mengharapkan setiap anggota partai harus berkorban segala-galanya demi cita-cita perjuangan. Karena itu, ukuran paling minimum bagi setiap anggota partai: membayar iuran (kontribusi) dan berlangganan dengan koran partai/pergerakan. “Kalau melaksanakan kewajian ini saja tak sanggup, tidak dapat diharap dia akan sanggup memenuhi kewajiban yang lebih tinggi,” kata Bung Hatta.

Hatta juga menggaris-bawahi pentingnya “koran partai”. Bagi Bung Hatta, koran partai berfungsi sebagai penerang dan pendidik bagi massa. Pada saat itu, Partai Nasional Indonesia (PNI)—partai yang didirikan Bung Hatta bersama Bung Sjahrir—menerbitkan koran bernama “Daulat Rakjat”.

PNI baru juga tidak begitu berkembang. Politik partai ini tetap non-koperasi dengan pemerintah kolonial. Akhirnya, pada tahun 1934, Bung Hatta—bersama Sjahrir dan sejumlah kawannya—ditangkap dan dibuang ke Boven Digul.

KUSNO,  Kader Partai Rakyat Demokratik (PRD)

*) diposting di: http://www.berdikarionline.com/gotong-royong/20120610/bung-hatta-dan-partai-kader.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s