Kemiskinan Akar Permasalahan Pendidikan?

Kemiskinan ancam peraih nilai tertinggi SMP tidak melanjutkan sekolahnya.

Wartajember.com – Sosoknya terlihat kalem dan dikenal pendiam, karakter itu diakui oleh teman-teman sekolahnya maupun di lungkungan tetangganya. Selepas sekolah, rutinitasnya adalah membantu neneknya, Sunarmi (60), berjualan pisang goreng dan makanan ringan lainnya. Dialah Winda Luvi Saputri (15), peraih Nilai Ujian Nasional tertinggi tingkat SMP se Kabupaten Jember dengan nilai 39,00.

Remaja lulusan SMPN 1 Kencong 2011-2012 ini adalah putri pertama dari pasangan Sunardi Susilo (48), dan Sri Winarti (38), yang tinggal Dusun Krajan A Desa Wonorejo Kecamatan Kencong. Menjalani hidup dalam kesederhanaan hanya bersama sang nenek tercinta, sejak orang tuanya pergi merantau ke Samarinda, Kalimantan, karena himpitan ekonomi.

Semua itu tak membuat Winda berkecil hati. Justru dijadikan sebuah motifasi untuk mengasah diri, bahwa dia tidak ingin seperti kedua orang tuanya, yang akhirnya harus pergi meninggalkannya sejak dia masih duduk di bangku kelas dua, hanya demi mengais rejeki. Dengan penuh kesadaran, keberhasilan dan kesuksesan harus terdukung oleh kemampuan pribadinya. Untuk itu, dia berkeyakinan harus sukses dari sisi pendidikan terlebih dahulu.

Anugerah berupa ‘otak encer’, tak disia-siakan olehnya. Disela rutinitasnya dalam membantu sang nenek, Winda mengaku selalu belajar dengan mengingat kembali materi-materi pelajaran yang sudah didapatkannya di sekolah. “Di samping belajar pada malam dan pagi hari,” aku Winda saat ditanya tehnik belajar, hingga sebuah prestasi sebagai peraih nilai tertinggi lulusan SMP se Kabupaten Jember berhasil diraihnya.

Tak dipungkiri, hidup jauh dari kemewahan memang sudah kental dalam jiwanya, hingga menciptakan karakter yang juga rendah hati tapi tinggi dalam prestasi. Seperti yang disampaikan Kepala SMPN 1 Kencong, Drs Sasmoko Spd, bahwa Winda tergolong murid yang pendiam. Namun begitu, prestasinya dalam hal pelajaran selalu menjadi yang terbaik sejak kelas satu. “Baik dalam ulangan harian, UTS (ulangan tengah semester) dan lainnya, nilainya memang selalu baik.,” tutur Sasmoko.

“Saya sudah punya keyakinan, kalau Winda bisa berada dalam lima besar nilai tertinggi se Kabupaten Jember. Gak tahunya malah berada di peringkat satu,” kata Sasmoko yang nampak bangga dengan prestasi anak didiknya itu. Karena secara otomatis juga akan mengangkat nama baik sekolahan yang dia pimpin.

Namun, prestasi itu justru tak membuat Winda nampak ceria. Sebuah realita keterbatasan ekonomi menghadang langkah Winda untuk terus melanjutkan sekolahnya. Kondisi ekonomi keluarganya nyaris memupuskan cita-cita untuk melanjutkan ke jenjang SMA. “Dari mana saya harus mendapatkan uang untuk biaya Winda melanjutkan?. Kiriman dari bapak ibunya, ditambah penghasilan saya hanya cukup biaya hidup sehari-hari,” keluh sang nenek sambil sibuk dengan aktifitas jualannya.

Kondisi inipun juga sudah disadari oleh Sasmoko kepala sekolahnya. Untuk itu, bersama rekan-rekan guru yang lain, pihaknya berusaha mencari terobosan terkait sekolahan yang bisa memberikan bia siswa pada Winda. Disamping mencari koneksi pada pihak ke tiga yang berkenan menjadi bapak asuh bagi Winda agar tetap bisa melanjutkan sekolahnya. “Kenyataan ini juga sudah kita antisipasi, makanya bersama reka-rekan guru, kami berusaha mencari terobosan dan koneksi demi kelanjutan sekolahnya. Eman Mas, kecerdasannya akan sia-sia saat dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya,” urainya.

(Sumber Warta Jember)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s