Gerakan Radikal Revolusioner

Substansi persoalan sejarah kekuasaan di Indonesia adalah tarik menarik antara kekuatan Sosialisme kerakyatan dengan Kapitalisme Feodal – ini saja tak lebih dan tak bukan, tidak ada soal lain.

Ide-ide sosialisme kerakyatan itu mulai ada ketika Diponegoro kalah perang dan gagalnya kaum priyayi Jawa mempertahankan kekuasaan atas tanah, lalu di tahun 1880-an muncullah gerakan-gerakan radikal, gerakan radikal ini yang kemudian banyak dikompilasi oleh sejarawan Sartono Kartodirdjo sebagai Gerakan radikal Petani merupakan akar dari gerakan rakyat yang tidak memandang struktur kelas. – Gerakan rakyat ini kemudian terbina menjadi gerakan agama radikal yang kemudian menyentuh kelas menengah- Pembinaan inilah yang kemudian bisa menjelaskan kenapa seluruh elemen pergerakan Indonesia merdeka modern dilakukan oleh kelas menengah intelektual dengan ide-ide sosialisme kerakyatan. Tak ada penggerak kemerdekaan yang berwatak feodal.

Sementara di pihak lain, Belanda dengan cerdik membangun infrastruktur baru, yaitu : mesin pendidikan yang mencetak kaum priyayi mempertahankan kekuasaannya lewat ilmu pengetahuan, kekuasaan atas ilmu pengetahuan ini dikanalkan pada pekerjaan-pekerjaan kantoran, birokratis dan dekat dengan kekuasaan ini adalah cikal bakal kelompok teknokrat-birokrat yang terasing dari ideologi-ideologi politik kerakyatan.

Akhirnya dua kelompok ini selalu bertarung dalam konstelasi politik di Indonesia. Dalam wacana pertarungan ini kemudian muncul militer di Indonesia yang awalnya militer Indonesia simpati pada gerakan-gerakan sosialisme, tapi kemudian karena menangnya perwira didikan KNIL Breda dalam hirarkis militer di Indonesia serta masuknya banyak priyayi Jawa dalam militer di Indonesia lewat PETA (Jepang mensyaratkan yang bisa masuk ke PETA bukan rakyat biasa tapi para priyayi atau kyai kelas tinggi, untuk menjaga agar tidak kemasukan unsur kominis atau gerakan rakyat djelata). sehingga jebolan PETA sekalipun menjadi unsur feodal yang amat kuat.

Nilai-nilai Jawa dalam kemiliteranpun amat lekat, dari mulai jargon sampai istilah-istilah kesamaptaan diambil dari bahasa Jawa untuk mengenangkan kejayaan militer di masa lalu, tapi sekaligus memperkuat unsur pembelaan feodal.

Militer yang feodal, berwatak priyayi kemudian memakan militer yang modern dan berwatak egaliter kebarat-baratan tapi sosialis seperti yang tergambarkan dalam figur Jenderal Ahmad Yani yang Sosialis dan Kejakarta-Jakartaan dengan Suharto yang lokalistik, priyayi dan hanya mengenal dua bahasa ‘Jawa dan Indonesia’. Pertarungan diam-diam ini tak terdeteksi oleh Sukarno dan terus menerus Sukarno hanya memperhatikan pada Nasution. Bukan pada konflik halus Yani-Sarbini dengan Suharto-Bachroem.

Sukarno adalah seorang ‘Sosialis terakhir’ ketika ia harus dimakan Jenderalnya sendiri yang berwatak feodal. setelah Gestapu 1965-

Tapi saya yakin sosialisme tidak akan mati, ia akan terus hidup, karena apa, karena pada dasarnya manusia tidak mau dikungkung oleh ketidakadilan dan kekuatan utama sosialisme adalah membangkitkan pertanyaan serta perlawanan terhadap keadilan. Pertanyaannya dimanakah sesungguhnya kekuatan sosialisme di Indonesia?

-Jawabannya di anak-anak muda yang sekarang berjuang di jalan senyap dan tak kenal politik uang……’.

(-Anton DH Nugrahanto-)

sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150882312372444&set=a.53765742443.67897.601337443&type=3&permPage=1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s