Mutu Intelektualitas Dulu dan Sekarang

Kenapa mutu intelektualitas pendiri bangsa kita jaman dulu begitu hebat, konflik politik di jaman dulu adalah konflik idealisme dengan basis referensi bukan main gorok atas keyakinan tanpa referensi, pemimpin mereka adalah yang dibesarkan dengan ribuan buku dan ribuan pemahaman sehingga berwawasan luas, baca pidato Bung Karno ini sehingga bisa menjelaskan bagaimana intelektualitas bekerja pada diri bapak bangsa, dan menjadikan basis pemahaman kita kenapa mereka bisa menemukan dengan indah Pancasila sebagai ruang dialektis bangsa Indonesia. Pidato 11 Juli 1960. 

“…… Ya, dunia sekarang menunjukkan, “het gedrang van mensen en volkeren die vechten om het bestaan.” Dunia sekarang laksana dunia yang terbelah dua, yang satu sama lain hendak bertempur, yang satu sama lain desak-mendesak dan bangsa Indonesia, jikalau tidak beweging, tidak ber-beweging, tidak menunjukkan activiteit, bangsa Indonesia akan hancur di dalam perjuangan perebutan ini, bangsa Indonesia akan laksana mentimun terhimpit oleh desakannya buah durian yang keras dan kuat. Akan mati terhimpit laksana cempe, anak kambing di dalam himpitan perebutan hidup dua gajah yang besar yang berjuang satu sama lain.

Saya berkata ucapan ini adalah ucapan yang amat berhikmat dan terus terang saja, kalimat ini menghikmati Bung Karno pula. Pada waktu itu, Bung Karno itu, wah seperti kamu ini, jejaka Kakrasana yang baru turun dari pertapaan Argasonya. Ya, hidup saya sebagai mahasiswa itu boleh dikatakan sebagai pertapaan Argasonya. Saya, coba tanya Pak Surowiyono ini, temannya almarhum Tjokroaminoto.

Saya ini sewaktu kecil-kecil, waktu muda-muda, hidup di dalam asuhannya almarhum Tjokroaminoto, hidup di dalam satu kamar, yang sederhana, sangat sederhana, tidur di amben. Ada lampu listrik, tetapi plenthong-nya itu mesti dibeli sendiri; tetapi tidak ada uang untuk beli plenthong, jadi plenthong – peer, oleh karena tidak mempunyai uang untuk membeli plenthong, aku beli lampu cempor.

Ya, malam-malam saya belajar di dalam sinarnya lampur cempor ini, banyak membaca, banyak sekali membaca, sehingga pernah saya ceritakan di dalam pidato di luar negeri bahwa saya ini sebenarnya, ini menyimpang sebentar saya ini sebenarnya adalah citizen of the world artinya warga negara dunia, bukan warga negara Indonesia saja tetapi warga negara dunia, oleh karena saya telah berjumpa dengan pemimpin-pemimpin besar daripada semua bangsa. Aku berkata, aku pernah berjumpa dengan George Washington, pernah berjumpa dengan Jefferson yang menulis Declaration of Independence Amerika. Saya pernah berjumpa dengan Gladstone, saya pernah berjumpa dengan pemimpin-pemimpin revolusi Perancis dari Mirabeau sampai Danton, sampai Robbespierre, sampai Marat, sampai Theroigne de Mericourt, saya pernah berjumpa dengan Mazzini dari Italia dan Garibaldi, saya pernah berjumpa dengan Sun Yat Sen dari Tiongkok, saya pernah berjumpa dengan Stalin, dengan Lenin, dengan Plekhanov dari Rusia, saya pernah berjumpa dengan Mahatma Gandhi, dengan Jawaharlal Nehru, Muhammad Ali, Syaukat Ali; saya pernah berjumpa dengan Mustapha Kamil dari Mesir, saya pernah berjumpa dengan Dr. Jose Y. Mercado dari Filipina.

Apa sebab ? Ini tadi, di pertapaan Argasonya, aku duduk sendiri, malam-malam dengan sinarnya lampu cempor aku membaca kitab sejarah, membawa riwayat-riwayat hidup, membaca tulisan-tulisan dan pidato-pidato daripada orang-orang besar yang saya sebut namanya itu tadi, sehingga saya berjumpa dengan pemimpin-pemimpin besar dari negara-negara, dari bangsa-bangsa di luar negeri itu, sehingga saya mengerti akan segenap cita-citanya, sehingga saya bisa, boleh dikatakan me-inleven in -menyatuduniakan diri saya ini dengan mereka itu, sehingga akhirnya saya kadang-kadang merasa diri saya ini bukan warga negara Indonesia, “but I am a citizen of the world,” warga negara dunia.

Lha, antara apa yang aku baca ini tulisannya, pemuda-pemudanya, pemudi-pemudinya bangsa Indonesia sendiri, menghikmati benar kepada saya. Memang jikalau kita progresif, tidak maju, tidak beweging, tidak activiteit, kita akan hancur lebur di dalam himpitannya bangsa-bangsa yang sekarang merebut hidup, yang sekarang sudah nyata dunia ini laksana kancah perjuangan. Oleh karena itu, maka boodschap, amanat saya yang pertama kepada pemuda-pemudi ialah: dinamik, bercita-cita yang tinggi.

*) sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150918231652444&set=a.53765742443.67897.601337443&type=3&permPage=1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s