Resensi: Lewat Djam Malam

13404239471026299073Ingatkah anda dengan film Rambo, ketika Sersan John Rambo datang ke sebuah kota, dan hanya ingin makan, ia berjalan kaki lalu dicurigai seorang sheriff polisi, akan bikin kerusuhan di kota yang tenang itu.

Sersan John Rambo marah, karena masyarakatnya tidak menghargai, melupakan veteran perang, seorang yang menggantungkan nyawa untuk negaranya, untuk idealisme menghadapi kenyataan masyarakat yang tak lagi mengenang perang sebagai pertempuran hidup mati sebuah negara.

Film Djam Malam juga membawa persoalan yang amat persis dialami Sersan John Rambo, film besutan Usmar Ismail tahun 1954, yang kemudian oleh National Museum Singapore (NMS) direstorasi lagi dan dianggap sebagai kekayaan budaya Asia Tenggara. –Tak kurang sutradara Martin Scorcese terlibat dalam usaha restorasi ini-.

Film Djam Malam adalah film Indonesia setelah jaman Revolusi tak lagi berderap, tak lagi ada suara Sukarno berkobar-kobar di tengah lapangan membakar perasaan rakyat, tak ada lagi tank-tank Belanda digempur tentara Republik, tak ada lagi pertempuran di toko-toko dan menewaskan banyak orang, dan tak ada lagi pesawat menembaki pasar. –Semua berlangsung tenang, pasca perjanjian KMB 1949, Indonesia masuk ke dalam jaman baru, tahun 1950-an yang matang, tapi adakah jaman baru itu menyisakan royan revolusi, adakah luka-luka itu masih terbuka lebar dan menganga – ya di jaman itu para Veteran Perang banyak tersingkirkan dalam kehidupan-.

Adalah seorang pejuang Republieken yang tak pandai menempatkan dirinya dalam situasi sosial masyarakat baru, yang gagap menanggapi keadaan – Iskandar (diperankan AN Aclaff) datang ke Bandung, sebuah kota yang dulu dikenangnya sebagai medan pertempuran dan dimana suara peluru yang berdesing-desing masih diingatnya dengan jelas. Iskandar berjalan dalam hati yang sunyi, ia dikejar-dikejar tentara karena telah melewati batas waktu Djam Malam yang ditetapkan Pemerintah karena situasi politik tak menentu.

Iskandar berlari dan masuk ke rumah besar, disana sudah menunggu Norma (Netty Herawati) pacarnya, Iskandar akan dipekerjakan oleh ayah Norma sebagai pegawai di kantor Gubernuran. – Besok paginya Iskandar pergi ke Kantor Gubernuran, tapi disana ia terlibat konflik, siang itu juga ia keluar dan tak betah kerja di situasi yang baginya tak nyaman, dunianya adalah desing peluru, persembunyian dan saling bunuh – ada satu hal yang Iskandar sembunyikan dari semua orang, satu kejadian dimana ia ingin bersembunyi dari kenyataan hidup-.

Lepas dari Gedung Sate, Iskandar mencari temannya Gafar (diperankan Awaludin Djamin-kelak jadi Kapolri) – Iskandar tak cocok melihat pekerjaan Gafar yang bekerja sebagai pemborong, Iskandar kemudian teringat komandannya Gunawan (diperankan Rd.Ismail). Ditemani oleh bekas anak buahnya Pudjo (diperankan Bambang Hermanto), Iskandar mencari Gunawan, bertemu dengan Gunawan yang kaya raya, memimpin perusahaan. Membuat Iskandar heran, ada apa dengan Gunawan sekarang. – Pikirannya sekelebat teringat perintah Gunawan untuk membunuh seorang perempuan kaya tanpa alasan jelas- Dalam satu pembicaraan dengan Gunawan itu ketahuan bahwa Gunawan menggunakan modal perusahaan yang dirampas untuk kekayaan dirinya pribadi, Iskandar meledak kemarahannya, bagaimanapun peristiwa penembakan perempuan itu masih menjadi hantu terbesar dalam dirinya…Ia terpenjara dalam rasa bersalah.

Laila pelacur yang ditemui Gunawan, diperankan Dhalia memenangkan artis terbaik FFI 1955 (sumber photo : finroll.com)

 13404243041620531812

Dalam kegelisahan itu ia berkenalan dengan seorang pelacur bernama Laila (diperankan Dhalia), seorang pelacur yang hidupnya hanya ingin punya rumah tangga yang tenang dan bahagia. Disitu ada juga Pudjo yang menjadi centeng di rumah pelacuran itu, Pudjo adalah anak buah Iskandar di jaman perang.

Gunawan kembali ke rumah Norma pacarnya yang sedang mengadakan pesta kedatangan Gunawan, di tengah pesta itu datanglah Polisi, Gunawan merasa ketakutan, ia merasa dirinya berbuat jahat di masa Revolusi dulu dengan menembak mati perempuan itu, ia kabur tanpa sebab, dan kemudian dikejar-kejar Polisi Militer ia ditembak mati, alasan penembakan karena sudah lewat ‘Djam Malam’.

-Seorang pejuang Republiek, mati dalam kesunyian ketika Republiek sudah berdiri. Ia mati dalam peraturan Djam Malam, padahal di jaman perang ia mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk kebebasan negerinya, tapi setelah merdeka kenapa masih ada ‘Djam Malam’, masih ada korupsi dan masih ada kebiadaban?.

Naskah skenario ini dibuat oleh Asrul Sani dengan amat cerdas membaca jaman, Asrul Sani bercerita dalam film ini yang hanya berlangsung dua hari : mulai dari kedatangan Iskandar ke Bandung sampai penembakan mati Iskandar, dua hari yang amat cepat tapi juga amat lama, Asrul Sani melihat di dekade 1950-an, semuanya diusahakan normal, tapi ada pertanyaan besar bagi Asrul Sani bagaimana bisa sebuah jaman dipaksakan normal meloncat dari jaman rusuh tanpa meninggalkan luka-luka, menyisakan royan-nya, royan-royan Revolusi?

Film ini ditutup dengan kalimat penghargaan, untuk siapa film ini dipersembahkan :

“Kepada mereka jang telah memberikan sebesar-besar pengorbanan njawa mereka, supaja kita jang hidup pada saat ini dapat menikmati segala kelezatan buah kemerdekaan. Kepada mereka jang tidak menuntut apapun buat diri mereka sendiri.”

Film ini diputar kembali di Senayan, di jaringan XXI dan membawa kesadaran bagi generasi muda bahwa bangsa tidak ‘tiba-tiba ada’ ada perjalanan kelam di masa lalu, ada luka dalam mendirikan bangsa, dengan hadirnya film bersejarah karena film ini adalah pemenang Festival Film Indonesia (FFI) pertama kali 1955, juga menjadikan sejarah yang hadir dengan konteks, -untuk apa negeri ini berdiri………

-Anton DH Nugrahanto-

sumber: http://hiburan.kompasiana.com/film/2012/06/23/lewat-djam-malam/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s