“Pendidikan Politik Pertahanan Keamanan”

Gambar

Pertahanan keamanan adalah persoalan yang sangat kompleks. Bagaimana sebuah negara mampu memberikan pengamanan bagi segala sumber daya yang ada di dalam negeri merupakan sebuah keharusan. Ini merupakan sebuah akar dan dasar intensitas kedaulatan sebuah negara. Berbicara Indonesia tentu berbicara kekayaan negaranya yang sudah barang tentu mencolok bagi mata dunia. Hal ini mengisyaratkan keharusan pembuatan grand desain negara yang fokus pada sektor pertahanan dan keamanan negara.

            Tentu saja pertahanan keamanan tidak melulu berbicara tentang anggaran pertahanan suatu negara serta upaya peremajaan alut sista dengan membeli dari negara-negara industri alutsista. Selama ini Indonesia masih menjadi negara yang sangat bergantung pada negara-negara yang maju dalam industri alutsistanya. Celakanya, hingga dewasa ini pembelian alutsista selalu saja disertai dengan perjanjian-perjanjian yang tidak jarang merugikan dan mengancam berdaulatnya negara dalam bidang politik. Di sisi lain, negara-negara industri alutsista juga enggan memberikan alutsista utama, artinya Indonesia hanya bisa membeli alutsista yang spesifikasinya jauh di bawah yang negara mereka produksi. Ketergantungan semakin terasa tatkala negara produsen ini melakukan embargo dengan alasan politis yang kesannya dibuat-buat. Dengan alasan pelanggaran HAM, Amerika seenaknya melakukan embargo.

            Isu yang paling strategis dari pertahanan dan keamanan Indonesia pada dasarnya bertumpu pada kemandirian negara dalam menyediakan alutsista yang tidak bergantung pada negara manapun. Apalagi harus sangat jauh tertinggal teknologi pertahanan keamanannya.

            Kompleksitas persoalan pertahanan dan keamanan ini tentu saja sangat mungkin diselesaikan dengan pengaturan kurikulum dan fokus arah pendidikan Indonesia sendiri. Negara yang pertahanan dan kemanannya baik tentu saja didukung oleh para cendekiawannya yang sangat mahir akan hal ihwal pertahanan dan keamanan negaranya. Bahkan adanya sebuah doktrin kesiapan dan kesigapan untuk wajib militer mana kala tanah air memanggilnya. Alih-alih adanya wajib militer, di Indonesia pendidikan politik pertahanan dan kemanan masih jadi milik segelintir orang.

            Di lain pihak, fokus pendidikan yang semraut tanpa kejelasan dan koherensi dengan kebutuhan pembangunan negara menjadi halangan yang sangat krusial hari-hari ini. Lambatnya perkembangan teknologi khususnya yang berkaitan dengan pertahanan dan keamanan tidak lepas dari fokus kurikulum pendidikannya. Bukankah seharusnya, sarjana tehknik menjadi utama dalam program pendidikan untuk diarahkan dalam peningkatan dan perkembangan riset teknologi? Bukankah pula Indonesia mengarahkan anggran pada hal-hal yang berkaitan dengan riset dalam negeri dibanding harus membeli alutsista dari negara-negara produsen yang itu-itu saja? Tidakkah kita bosan selalu bergantung dan politik pertahanan keamanannya harus terkebiri kedaulatannya? Semoga saja ada upaya perbaikan konsepsi, gagasan, dan juga praktek dalam upaya menguatkan politik pertahanan dan keamanan tanah air.

Oleh : Junius Fernando S Saragih*

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s