Pertanian Kolektif

I. Prinsip-Prinsip Menjalankan Produksi Pertanian
Meningkatkan Produktifitas pertanian untuk Mewujudkan Tatanan Ekonomi Yang Berbasis Kepada Kekuatan Rakyat, Mandiri-Berdikari Dan Berorientasi Pada Kepentingan Rakyat tidak memungkin menunggu syarat-syarat yang sempurna dari tahapan land reform. Bahkan secara dialektis meningkatkan produktifitas pertanian dapat memacu percepatan syarat-syarat reforma agraria. Yang terpenting adalah bagaimana prinsip-prinsip dapat berlaku dalam meningkatkan produktifitas pertanian.
Prinsip-prinsip tersebut adalah:

1. Ada koperasi (secara kolektif) yang menjalankan produksi pertanian tersebut secara profisional.
2. Koperasi (secara kolektif) tersebut bertanggungjawab terhadap organisasi diatasnya dan terhadap massa rakyat setempat.
3. Pelaksanaan produksi pertanian melibatkan partisipasi massa rakyat.
II. Klasifikasi Tingkat Produktifitas Pertanian
Sehubungan dengan tingkat produktifitas pertanian yang langsung bersangkutan dengan sengketa agraria selama ini dalah: tenaga produksi, alat produksi, dan model produksi. Oleh karenaitu tingkat produktifitas pertanian dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Alat produksi berupa tanah.
2. Teknologi produksi untuk meningkatkan hasil pertanian.
3. Manajemen koperasi dan pwertanian kolektif.
4. Pasar hasil produksi pertanian.
III. Tahapan Penyelesaian
1. Alat produksi berupa tanah
Sejatinya tanah haruslah dikerjakan secara kolektif karena dengan dikerjakan secara kolektif maka tanah tersebut akan berproduksi secara maksimal dan lebih berguna untuk semua orang. Oleh karenanya kesadaran dan kesukarelaan bahwa tanah tersebut akan dimiliki dan dikerjakan kolektif harus menjadi pemahaman kaum tani.
2. Teknologi produksi untuk meningkatkan hasil pertanian
1. Kepemilikan dan dikerjakan tanah secara kolektif hanya bisa digarap dengan teknologi produksi, agar kaum tani dapat memperoleh keadilan dan kesejahteraannya.
2. Pemenuhan modal – kridit usaha pertanian dan pertanian modern harus ada tanggungjawab pemerintah atau kekuasaan politik secara keseluruhan.
3. Disamping itu sebuah koperasi (secara kolektif) yang terkontrol dan bertanggungjawab harus dibentuk mencarikan jalan alternatif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
4. Pengajuan proposal atas nama organisasi (Serikat tani atau koperasi) kepada organisasi lain, personal, bahkan menagih tanggungjawab pemerintah atau kekuasaan politik untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Syarat prinsip adalah; tidak mengikat untuk membangun kemandirian kaum tani. Kalau bantuan berupa dan maka harus masuk ke rekening yang terkontrol tiga (3) orang dan bertanggungjawab pada organisasi dan massa rakyat. Dana tidak boleh masuk ke tangan perorangan baik langsung atau sembunyi-sembunyi, artinya rekening tersebut terbuka dan dilaporkan pada organiasasi dan rapat berdasarkan mekanisme organisasi.
5. Semangkin cepat dan digunakan untuk modal dan teknologi maka akan semangkin mengkongkritkan kerja dan mentiadakan manipulisai. Usahakan bantuan sudah berupa alat teknologi agar memperkecil resiko ongkos dan lainnya sewaktu membeli teknologi.
3. Manajemen koperasi dan pertanian kolektif
1. Setelah dana turun segera lakukan pendidikan organisasi dan manajemen pengelolaan lahan. Pendidikan bertujuan:
a. Membangun kontrol dan monitoring yang kuat. Karena kalau tidak justru akan melahirkan disorientasi.
b. Meningkatkan pengetahuan kaum tani soal manajemen pertanian kolektif yang lebih maju.
2. Bekerjasama dengan kaum profisional dan lembaga-lembaga yang direkomundasikan untuk menyelenggarakan pendidikan dan asistensi teknis.
3. pilih dan tugaskan orang-orang terpercaya pada posisi-posisi koperasi secara demokratis.
4. Pastikan partisipasi aktif dari seluruh kaum tani dalam proses produksi kecuali orang jompo dan anak-anak balita (itupun dalam waktu tertentu dapat berguna).
5. Jangan segan-segan dan terlambat mengadili orang yang bersalah dalam menjalankan manajemen koperasi dan pertanian kolektif, karena akan membawa pengaruh kerusakan besar pada sistem keseluruhan.
4. Pasar produksi pertanian
1. Semenjak awal sudah di rintis dengan bantuan jaringan organisasi (serikat tani atau koperasi) mencarikan pasar yang baik bagi hasil produksi kaum tani. Sehingga sebelum panen sudah ada pasar yang pasti yang menampung dengan harga yang lebih baik bagi hasil pertanian tersebut.
2. Namun demikian, harus diketahui bahwa harga pertanian yang tidak ditentukan oleh kaum tani suatu saat akan berubah. Oleh karena itu kaum tani dibantu jaringan organisasi (serikat tani atau koperasi) harus terus memastikan memastikan harga ditentukan oleh kaum tani dengan kerjasama yang luas.
3. Berhati-hatilah dengan sindikat perdagangan yang tidak jelas dan tidak terbuka. Oleh karena itu untuk menghindari kerugian maka pembelian dan penjualan harus tunai dann kongkrit di depan. Delegasi atau team yang melakukan hubungan dengan pembeli dan penjual pastikan bertemu langsung dengan pemilik modal.
4. Siapkan antisipasi bila ada indikasi culas.
5. Bukalah kemungkinan berhubungan dengan beberapa orang pembeli.
6. Secara prinsip seharusnya kaum tani membangun kerjasama dengan kaum buruh, mahasiswa progresif, kaum miskin kota dalam bentuk pemasaran. Karena ini akan semangkin memperkuat solidaritas antar sektor rakyat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s