Rakyat Miskin Usung Reforma Agraria di Hari Tani

Aksi PRD Sulsel memperingati hari Tani

 Terik matahari yang menyengat siang itu, seakan ikut membakar semangat massa. Puluhan orang yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945 di Makassar, Sulsel, nampak semangat menggelar aksi teatrikal diatas jalan aspal yang begitu panas saat menyambut Hari Tani Nasional, Senin (24/9).

Massa aksi yang terdiri dari kaum miskin kota, petani, pedagang kecil, dan mahasiswa ini menuntut pemerintah untuk sungguh-sungguh membangun reforma agraria. Pasalnya, selama ini kebijakan agraria lebih banyak disetir kepentingan asing.

Arham Tawarrang, Ketua PRD Kota Makassar, dalam orasinya mengatakan bahwa selama pemerintah masih tunduk kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), maka Indonesia tidak pernah berdaulat untuk mengatur sector agrarianya sendiri.

“Baik kebijakan pencabutan subsidi, harga bahan pokok, impor pangan, dll, semuanya diakibatkan oleh hilangnya peran pemerintah dalam melindungi sektor pertanian. Karena itu, kesepakatan antara Indonesia dengan WTO harus dihentikan.” Seru Arham.

Setelah selesai melakukan orasi di Jl. AP Pettarani, massa pun bergerak menuju kantor DPRD Kota Makassar. Dalam aksi ini, massa mahasiswa menggelar teatrikal yang mengambarkan penindasan kaum tani yang dilakukan oleh pemerintah dan pemodal asing.

Massa aksi yang membawa spanduk bertuliskan “Tegakkan Pasal 33 UUD 45 Untuk Mewujudkan Reforma Agraria dan Kedaulatan Pangan Nasional” kemudian bergerak menuju Kantor PT. Bulog Sulsel di Jl. AP Pettarani.

Daeng Baji, Ketua Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Kota Makassar, menyatakan kalau kaum tani di desa-desa masih jauh dari hidup sejahtera.

Menurutnya, kaum tani saat ini terpaksa bertani dengan biaya produksi yang tinggi, sehingga harga-harga pangan yang dihasilkannya lebih mahal dan dijangkau oleh rakyat miskin baik di desa dan kota.

Kabid Pelayanan Publik PT. Bulog, Muis S Ali, yang menerima massa aksi tersebut,  menyatakan mendukung program dan tuntutan massa. “Karena selama ini, pihak Bulog hanya sebagai operator yang tugasnya memastikan ketersediaan pangan, tidak lagi berfungsi seperti dulu yang menjadi penangungjawab penuh terhadap ketahanan pangan dalam negeri.” Katanya.

Sementara itu, dihari yang sama, hari tani juga diperingati  oleh puluhan aktivis dan petani di Kabupaten Bulukumba dan Kota Palopo, Sulsel. Dalam aksinya Mereka juga menuntut adanya reforma agraria yang sejati untuk menjamin petani mendapatkan akses tanah, modal, dan teknologi.

 Qadlie F Sulaiman dan Babra Kamal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s