Teori Nilai Kerja dan Pemujaan Komoditi

Oleh: Coen Husain Pontoh
ULASAN Marx tentang nilai-guna dan nilai-tukar, mengantarkannya pada pembahasan mengenai konsepsi tentang Nilai. Struktur pembahasannya adalah nilai-guna (use-value)? nilai (value)? nilai-tukar (exchange value).
Antropolog David Harvey (2006:2), mengatakan, kita tidak akan bisa menafsirkan apa itu nilai tanpa terlebih dahulu memahami apa itu nilai-guna dan nilai-tukar. Juga sebaliknya, kita tidak bisa menafsirkan dua yang terakhir tanpa memahami apa itu nilai. Masih menurut Harvey, Marx tidak pernah memperlakukan masing-masing konsep itu secara terisolasi, tapi senantiasa memfokuskan ketiganya dalam sebuah relasi yang mungkin: antara nilai-guna dan nilai-tukar, antara nilai-guna dan nilai, dan antara nilai-tukar dan nilai (ibid).
Pembahasan Marx tentang Nilai ini, merupakan dasar dari Teori Nilai Kerja (selanjutnya disebut TNK), yang kontroversial itu. Menariknya, Marx sendiri tidak pernah menyebut teori tentang Nilai sebagai TNK. Sebutan ini pertama kalinya digunakan para pengritiknya dari kalangan ekonom mainstream, seperti Eugen von Böhm-Bawerk. Menjadi tambah populer ketika ekonom Marxist Rudolf Hilferding, memberikan kritik atas kritiknya Böhm-Bawerk terhadap Marx (Hiroyoshi, 2005:81).
TNK menjadi kontroversial, karena posisinya yang sangat fundamental dalam bangunan teori ekonomi politik Marx. Seperti dikemukakan Andrew Glyn, konsepsi tentang nilai, keuntungan, dan eksploitasi (value, profit and exploitation), merupakan salah satu dari tiga pilar utama bangunan ekonomi Marxist. Dua pilar lainnya adalah teori tentang proses kerja (the labour process), dan teori tentang akumulasi dan krisis kapital (capital accumulation and crises) (Glyn in Eatwall et.al, 1990:274-75). Hal senada dikemukakan I.I Rubin (1990:xxix) bahwa teori tentang pemujaan komoditi (commodity fetishism) dan lebih khusus lagi TNK, merupakan basis dari keseluruhan sistem ekonominya Marx. Lebih lanjut dikatakannya, hanya setelah kita menemukan basis dari TNK, barulah kita bisa memahami apa yang Marx tulis dalam bab pertama Capital Volume I (ibid:61). Mungkin ini sebabnya, mengapa Fine dan Harris (1979:34) mengatakan, “menolak TNK sama artinya dengan menolak metode Marx.”
Karena posisinya yang sangat fundamental itu, TNK menjadi sasaran empuk para pengritik teori ekonomi Marxis. Sedemikian kerasnya kritik terhadap TNK, sehingga Eatwall et.al., mengatakan, “gagasan Marxian itu tetap hidup dan (masuk akal) di dalam antropologi, sejarah, filsafat, dan sosiologi. Sementara dalam ekonomi, walaupun tidak bisa disebut telah mati, tapi dalam kondisi tertentu keberadaannya telah sekarat, padahal ilmu ekonomi itu sendiri merupakan saripati dari pendekatan Marxian (op.cit, xi). Namun demikian, tulisan ini tidak akan masuk pada kontroversi itu. Tujuan tulisan ini untuk menunjukkan bagaimana Marx menjabarkan TNK dan melihat lebih jauh esensi dari teori ekonomi politik Marxist.
Teori Nilai Kerja
Dalam pembahasan tentang komoditi, kita telah mengetahui bahwa nilai-tukar pertama kali menampakkan dirinya dalam hubungan kuantitatif, dimana nilai-guna sebuah barang dipertukarkan dengan nilai-guna barang yang lain. Kata Marx, hubungan ini terus berubah seturut perubahan ruang dan waktu. Dengan kata lain, nilai-tukar adalah hubungan kuantitatif di antara komoditi, yang secara kualitatif memiliki nilai-guna yang sama.
Pertanyaan yang segera muncul, jika sepasang sepatu di tukar dengan sekilo beras, dan semeter baja, dst, apa yang membuat pertukaran itu menjadi mungkin? Atau, apa yang menyebabkan saya atau anda membeli celana jeans dan orang lain membeli jam tangan, serta orang lainnya lagi membeli buku? Ada dua pendekatan dalam menjawab pertanyaan ini: pertama, pendekatan yang mengatakan bahwa nilai secara alamiah melekat pada sebuah obyek (intrinsic theory). Menurut teori ini, semakin banyak kerja yang diinvestasikan pada sebuah obyek, semakin obyek itu bernilai. Sementara pendekatan kedua mengatakan, nilai tidaklah inheren dalam sebuah obyek, tapi ia (nilai) merupakan produk dari penilaian beragam konsumen (market-exchange theory). Menurut teori pasar-pertukaran, nilai tergantung pada keinginan masing-masing orang: semakin tinggi penghargaan mereka terhadap sebuah obyek dan semakin inginnya mereka melakukan pertukaran, semakin obyek itu bernilai. Teori inilah yang menjadi dasar dari pasar bebas kapitalisme.
TNK Marx berpijak ada pendekatan pertama. Untuk sampai pada kesimpulan ini, mari kita ikuti struktur penjelasannya. Katanya, ketiga komoditi itu bisa saling dipertukarkan, karena ketiganya memiliki skala (magnitude) yang identik. Atau sebagaimana dikemukakannya dalam Critique, ketiga komoditi itu memiliki nilai-tukar yang sama walaupun mengandung nilai-guna yang berbeda (Marx, 1989:28). Dalam Capital ia mengatakan, (1) validitas nilai-tukar sebuah komoditi tertentu mengekspresikan sesuatu yang setara; (2) nilai-tukar tidak bisa tidak melainkan sebuah corak ekspresi (mode of expression), ‘bentuk yang tampak/form of appearance,’ dari isi yang berbeda (Marx, 1990:127). Selanjutnya, ia mengatakan, jika dua produk dipertukarkan, katakanlah 1kg baja ditukar dengan 1kg jagung, maka pertukaran di antara keduanya terjadi karena ada sesuatu yang merepresentasikan kesetaraan, sehingga 1kg baja = 1kg jagung, dan kesetaraan yang melekat pada masing-masing produk itu, sejauh masih dalam konteks nilai-tukar, bisa diredusir pada produk yang ketiga (ibid). Sederhananya, barang-barang yang saling dipertukarkan itu, dengan kualitas yang berbeda-beda tersebut, pasti memiliki kualitas bersama yang setara. Jika kualitas bersama itu tidak ada, tidak mungkin terjadi pertukaran di antara barang-barang tadi.
Sampai di sini, gagasan Marx tentang pertukaran ini, menurut Rudolf Hilferding, berakar pada pemikiran Aristoteles, yang mengatakan, pertukaran tidak akan terjadi tanpa kesetaraan (equality), dan kesetaraan tidak mungkin ada tanpa adanya standar ukuran yang sama (commensurability).
Apa standar ukuran yang sama itu? Menurut Marx, elemen yang sama itu tidak bisa berbentuk geometrik, fisikal, kimiawi, atau komoditi-komoditi yang dihasilkan oleh alam. Misalnya, ukuran alamiah itu adalah panjang, berat, kepadatan, warna, ukuran, sifat molekul, dsb. Apakah 1kg beras sama kualitasnya dengan 1kg emas, yang memungkinkan keduanya dipertukarkan? Tentu saja tidak! Singkatnya, apapun yang membuat kualitas fisik atau kimiawi yang melekat pada komoditi, pasti menentukan nilai guna komoditi tersebut, karena itu memiliki nilai-guna relative, tetapi itu bukan nilai-tukar. Nilai-tukar, mesti dipisahkan (abstracted) dari apapun yang mengandung kualitas fisik alami dari komoditi (Mandel, 2006:36). Karena itu, nilai yang sama itu mesti dicari di tempat lain. Dalam Critique, ia memberikan contoh satu ons emas, satu ton besi, seperempat kg terigu, dan 20 yards sutra, adalah nilai-tukar dengan ukuran yang setara. Sebagai nilai-tukar, jika perbedaan kualitatif dari nilai-guna ketiganya dihilangkan, yang tinggal dari ketiganya adalah representasi jumlah yang setara dari kerja yang sama (op.cit:29). Atau, sebagaimana dikatakannya dalam Capital, jika kita mengabaikan nilai-guna komoditi, maka hanya ada satu hal yang tersisa, bahwa keberadaannya merupakan produk dari kerja (op.cit:128). Selanjutnya ia mengatakan,
We have seen that when commodities are in the relation of exchange, their exchange value manifests itself as something totally independent of their use-value. But if we abstract from their use-value, there remains their value, as it has just been defined. The common factor in the exchange relation, or in the exchange-value of the commodity, is therefore its value.”
Kita telah melihat, ketika komoditi berada dalam hubungan pertukaran, nilai-tukar mereka manifes (menjelma) pada dirinya sendiri sebagai sesuatu yang secara total independen dari nilai-guna mereka. Tetapi, jika kita memisahkan nilai-guna komoditi tersebut, yang tetap darinya adalah nilai, sebagai sesuatu yang baru saja didefinisikan. Oleh sebab itu, faktor bersama dalam hubungan pertukaran, atau di dalam nilai-tukar sebuah komoditi, adalah nilai itu sendiri” (ibid.).
Nilai itu sendiri, dalam hubungan pertukaran, menampakkan dirinya dalam wujud harga atau uang. Tetapi, darimana nilai itu berasal? Di sini, Marx meminjam konsep dari ekonom klasik, seperti Adam Smith dan terutama David Ricardo. Menurut Ricardo, “nilai sebuah komoditi, atau kuantitas dari setiap komoditi lainnya yang memungkinkannya dipertukarkan, tergantung pada kuantitas relatif dari kerja yang dibutuhkan untuk memroduksi komoditi tersebut, bukan pada besar-kecilnya kompensasi yang dibayarkan kepada buruh tersebut” (Meek, 1956:97). Bagi Marx, satu-satunya nilai bersama yang dikandung oleh nilai-guna sebuah komoditi, bahwa mereka adalah produk dari kerja. Dalam Capital, ia menegask,an nilai-guna atau barang yang berguna, hanya memiliki nilai karena kerja manusia dalam bentuk abstrak yang melekat atau termaterialisasikan ke dalamnya (op.cit: 129). Ditambahkan Rubin (op.cit:65), nilai dari sebuah komoditi secara proporsional langsung berkaitan dengan kuantitas kerja yang dibutuhkan dalam memproduksinya.
Kalau kita bahasakan lebih sederhana: komoditi pasti mengandung dua karakteristik: pertama, komoditi tersebut memiliki nilai guna; dan kedua, komoditi tersebut merupakan produk dari kerja manusia. Karena nilai-guna tidak bisa menjadi ukuran yang sama bagi sebuah produk untuk dipertukarkan (karena barang yang sama, misalnya, pasti memiliki nilai-guna yang berbeda bagi setiap orang), maka kegunaan dengan demikian adalah hubungan personal antara manusia dengan benda dan sebab itu bersifat subyektif. Itu pula sebabnya, ukuran nilai-guna ini tidak bisa menjelaskan mengapa komoditi secara konsisten dipertukarkan dalam rasio yang stabil.
Maka yang tinggal adalah karakteristik kedua, yakni kerja manusia yang melekat pada benda tersebut. Berbeda dengan nilai-guna yang ukurannya bersifat personal, maka kerja manusia yang melekat pada komoditi ini bisa diukur secara obyektif. Pengukuran itu, menurut Marx melalui kuantitas dari ‘substansi yang membentuk nilai,’ yakni kerja, yang terkandung dalam benda tersebut. Kuantitas ini diukur berdasarkan durasi kerja atau waktu kerja (labour-time) dan tenaga kerja itu sendiri diukur dalam skala tertentu seperti jam, hari, minggu, dst. (op.cit:129).
Tetapi, jika nilai sebuah komoditi diukur berdasarkan waktu kerja yang dibutuhkan (necessary-labour time), untuk memroduksi komoditi tersebut, maka, kata Meek (op.cit:167), kita akan langsung berhadapan dengan soal: semakin lambat (idle) dan tidak terampilnya seorang buruh (unskilled labor/simple labor)), maka semakin besarlah nilai dari komoditi yang diproduksinya, karena semakin panjang waktu dihabiskannya untuk memroduksi komoditi tersebut.” Sebaliknya, nilai dari komoditi yang dihasilkan oleh buruh terampil (skilled labor/complex labor) lebih kecil karena waktu yang digunakan untuk memroduksi komoditi tersebut lebih kurang.
Untuk memperjelas apa yang dikemukakan Meek ini, mari kita lihat ilustrasi matematis dari Edward B. Aveling berikut: katakanlah V adalah simbol dari nilai, dan Q adalah simbol dari kuantitas kerja yang melekat pada komoditi. Karena nilai sebuah komoditi bergantung pada kerja manusia yang melekat padanya, maka makin besar Q, makin besar pula V; begitu sebaliknya.
Hubungan ini disimbolkan menjadi V ? Q.
Kini, kita masukkan variabel produktivitas kerja, yang oleh Aveling diberi simbol P. Jika P berkurang, maka waktu kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi komoditi (Q) bertambah, dengan demikian, V juga bertambah; sebaliknya, jika P bertambah maka Q berkurang dan otomatis V pun berkurang. Artinya, V tidak berkaitan langsung dengan P tetapi, merupakan kebalikannya.
Hubungan kedua ini disimbolkan menjadi V ? 1/P.
Jika kedua pernyataan ini digabung, V ? Q dan V ? 1/P, maka kesimpulannya, nilai sebuah komoditi berhubungan langsung dengan kuantitas waktu kerja yang melekat padanya dan berkebalikan dengan produktivitas kerja yang ditentukan oleh perkembangan ilmu pengetahuan, kondisi-kondisi fisik dan sosial, dsb. (Avelling, 2005:2-3).
Berhadapan dengan soal ini, Marx (1990:129) mengatakan,
…the labour that forms the substance of value is equal human labour, the expenditure of identical human labour power. The total labour-power of society , which is manifested in the values of the world of commodities, count here as one homogenous mass of human labur-power, although composed of innumerable individual units of labour-power. Each of these units is the same as any other, to the extent that is has the character of a socially average unit of labour-power and acts as such, i.e. only needs, in order to produce a commodity, the labour time which is necessary on an average, or in other words is socially necessary. Socially necessary labour-time is the labour-time required to produce any use-values under the conditions of production normal for a given society and with the average degree of skill and intensity of labour prevalent in that society. The introduction of power-looms into England, for example, probably reduce by one-half the labour required to convert a given quantity of yarn into woven fabric. In order to do this, the English hand-loom weaver in fact needed the same amount of labour-timer as before; but the product of his individual hour of labour now only represented half an hour of social labour, and consequently fell to one half its former value.
….kerja yang membentuk substansi nilai adalah kerja manusia yang setara, pengeluaran tenaga kerja manusia yang indentik. Total tenaga kerja masyarakat, yang menjelma dalam nilai keseluruhan komoditi, di sini dihitung sebagai tenaga kerja manusia yang homogen, walaupun terdiri dari unit-unit tenaga kerja individual yang tidak terhitung jumlahnya. Setiap unit tersebut sama satu dengan lainnya, dimana secara sosial hal itu merupakan karakter dari rata-rata unit tenaga kerja dan tindakannya, yakni kebutuhannya, untuk memroduksi komoditi, waktu kerja yang dibutuhkan secara rata-rata, atau dengan kata lain, secara sosial dibutuhkan (socially necessary). Waktu-kerja sosial yang dibutuhkan (Socially necessary labour-time ) itu adalah waktu-kerja yang diperlukan untuk memroduksi setiap nilai-guna di bawah kondisi-kondisi produksi yang normal dalam masyarakat dan dengan rata-rata derajat keahlian dan intensitas kerja yang lazim dalam masyarakat. Diperkenalkannya mesin tenun di Inggris, misalnya, mungkin mengurangi setengah waktu kerja yang dibutuhkan untuk memindahkan kuantitas benang ke dalam pabrik tenun. Guna mengerjakan hal itu, penenun tangan Inggris pada kenyataannya membutuhkan jumlah waktu-kerja yang sama seperti sebelumnya; tetapi produk dari jam kerja individualnya, kini hanya mencerminkan setengah jam dari kerja sosial, dan konsekuensinya jatuh menjadi setengah jam dari nilai sebelumnya.”
Tetapi, jika jawaban Marx ini kita terima, maka persoalan lain yang lebih sulit sudah menanti, yakni direduksinya tenaga kerja terampil (skilled labour) menjadi tenaga kerja tidak terampil (unskilled labour). Meek (op.cit:168) memberikan contoh terhadap masalah ini: rata-rata tingkat keterampilan (average degree of skill) boleh jadi dominan di satu industri pada waktu tertentu, tapi menjadi subordinatif di waktu yang lain; dan keseimbangan harga komoditi yang diproduksi oleh buruh yang relatif lebih terampil secara umum lebih mahal, dalam hubungannya dengan jumlah jam kerja yang dikeluarkan untuk memproduksi barang tersebut, ketimbang dengan komoditi yang diproduksi oleh buruh yang relatif tidak terampil.
Masih menurut Meek, Marx dalam Bab I Capital, memang tidak berusaha untuk menjawab kesulitan ini. Seluruh perhatiannya pada tahap awal ini adalah untuk mendemonstrasikan bahwa reduksi tenaga terampil menjadi tenaga tidak terampil, pada kenyataannya terjadi di dunia nyata, dan reduksi ini merupakan aspek yang sangat esensial dalam proses umum dimana kerja individual direduksi menjadi kerja abstrak. Dalam Capital ia menjelaskan soal ini,
…the value of a commodity represents human labour pure and simple, the expenditure of human labour in general. And just as, in civil society, a general or a banker plays a great part but man as such plays a very mean part, so here too, the same is true of human labour. It is the expenditure of simple labour-power, i.e. of the labour-power possesed in out being developed in any special way. Simple average labour, is is true, varies in character in different countries at different cultural epochs, but in a particular society it is given. More complex labour counts only as intensified, or rather multiplied simple-labour, so that a smaller quantity of complex labour is considered equal to a larger quantity of simple labour. Experience shows that this reduction is constantly being made. A commodity may be the outcome of the most complicated labour, but through its value it is posited as equal to the product of simple labour, hence it represents only a specific quantity of simple labour. The various proportion in which different kinds of labour are reduced to simple labour as their unit of measurement are established by a social process that goes on behind the backs of the producers; they proportions therefore appear to the producers to have been handed down by tradition. In the interest of simplification, we shall henceforth view every form of labour-power directly as simple labour-power; by this we shall simply be saving ourselves the trouble of making the reduction.”
……nilai sebuah komoditi mencerminkan kerja manusia yang murni dan sederhana, pengeluaran kerja manusia secara umum. Dan layaknya dalam masyarakat sipil, seorang jenderal atau seorang bankir memainkan peran besarnya sebagaimana manusia memainkan peran yang sangat penting, di sini juga demikian, peran yang sama dimainkan oleh kerja manusia. Itulah pengeluaran tenaga kerja sederhana (tenaga kerja tidak terampil), yakni tenaga kerja yang dimiliki di luar jalur perkembangan yang khusus. Adalah benar bahwa rata-rata kerja sederhana karakternya beragam pada setiap negara yang berbeda, pada epos kebudayaan yang berbeda, tetapi dalam masyarakat tertentu hal itu terjadi. Tenaga kerja terampil, dengan demikian tak lebih sebagai intensifikasi kerja, atau malah kerja-sederhana yang dilipatgandakan, sehingga semakin kecil jumlah tenaga kerja terampil harus dimengerti sama dengan semakin besar jumlah tenaga kerja tidak terampil. Pengalaman menunjukkan, reduksi ini secara tetap terjadi. Sebuah komoditi mungkin merupakan hasil dari kerja yang sangat rumit, tetapi nilai dari komoditi tersebut pada dasarnya adalah setara bahwa ia adalah produk dari kerja sederhana, dengan demikian komoditi tersebut hanya mencerminkan jumlah khusus dari kerja sederhana. Proporsi beragam dimana berbagai jenis kerja yang berbeda direduksi menjadi kerja sederhana setelah unitnya diukur, merupakan hasil dari proses sosial yang muncul di belakang punggung para produser; oleh karenanya bagi para produser, proporsi mereka tampak sebagai warisan tradisi. Demi kepentingan penyederhanaan, kita harus mulai melihat bahwa semua bentuk tenaga kerja langsung sebagai tenaga kerja sederhana; dengan ini kita, cukup melindungi diri kita sendiri dari kesalahan ketika melakukan penyederhanaan” (ibid:135).
Soal lain yang muncul dari TNK, jika nilai (harga) yang dikandung oleh komoditi adalah produk dari kerja, bagaimana kita melihat benda-benda seperti tanah, udara, atau air yang kini telah menjadi komoditi melalui proses komodifikasi? Bukankah benda-benda tersebut bukan produk dari kerja? Ernest Mandel memberikan jawaban terhadap soal ini, bahwa benda yang bukan merupakan produk dari kerja manusia menjadi bernilai atau berharga ketika ia dimiliki secara pribadi, melalui lembaga sosial kepemilikan pribadi. Tanah, misalnya, yang bukan merupakan produk kerja manusia menjadi memiliki nilai, ketika di atas tanah itu dipasang papan pengumuman: “Di larang melewati jalan ini,” atau “Tanah ini bukan milik umum, dilarang menanam apapun di atasnya” (in Marx, op.cit:44).
Pemujaan Komoditi
Kita telah mendiskusikan, apa yang Marx maksud dengan TNK. Tetapi, diskusi ini masih bersifat permukaan, kita masih harus maju selangkah lagi. Kalau kita terima konsepsi Marx tentang TNK, lalu apa keistimewaan teori ini dalam memahami kapitalisme?
Saya mengajukan pertanyaan ini karena terinspirasi dari pernyataan Rubin, mengenai ciri khas pemikiran Marx. Menurutnya, Marx di dalam karya-karyanya, selalu berusaha melampaui apa yang tampak dari luar (outward appearance), atau yang sekadar menunjukkan hubungan eksternal (external connection), atau bahkan yang hanya berupa fenomena permukaan (surface of phenomena), untuk kemudian menuju pada sesuatu yang berkaitan dengan hubungan internal (internal connection), hubungan yang bersifat imanen (immanent connection), atau menelisik pada esensi benda-benda (the essence of things) (op.cit:26).
Ini berbeda dengan kalangan ekonom vulgar, yang hanya mengkaji apa yang,
“’estranged’ from economic relation (C,III,p.817) i.e., the objectivied, ready-made form of things, not grasping their social character. They see the process of the ‘personification’ of things which takes place on the surface of economic life, but they have no idea of the process of reification of production relation among people. They consider material categories, ready-made conditions of the process of production which affect the motives of producers and which are expressed in their conciousness, they do not examine the character of these material categories as results of the social process. Ignoring this internal social process, they restrict themselves to the external connection between things as this connestion appears in competition. In competition, then eveything appears inside out and always seems to be in reverse. Thus production relations among people appear to depend on the social forms of things, and not the other way around.
‘terasing’ dari hubungan ekonomi (C,III,p.817), yakni yang obyaktif, bentuk dari benda-benda yang siap pakai, bukan yang diambil dari karakter sosialnya. Mereka melihat proses “personifikasi” benda-bedan yang berada dalam penampakkan kehidupan ekonomi, tetapi mereka tidak memiliki gagasan tentang proses reifikasi (bendanisasi) hubungan produksi di antara orang-orang. Mereka mempertimbangkan kategori-kategori material, kondisi-kondisi dari proses produksi yang siap dikerjakan, yang berdampak pada motivasi produser dan yang terekspresi dalam kesadaran mereka, mereka tidak menguji karakter kategori-kategori material tersebut sebagai hasil dari proses sosial. Mengabaikan proses sosial internal ini, mereka membatasi dirinya sendiri pada hubungan eksternal di antara benda-benda sebagaimana hubungan ini muncul dalam persaingan. Dalam persaingan, kemudian semuanya muncul dari dalam ke luar dan selalu terlhat sebagai kebalikannya. Jadi, hubungan produksi di antara orang-orang yang tampak di permukaan tergantung pada bentuk-bentuk sosial dari benda-benda, dan bukan pada hal lain di sekitarnya” (ibid:26-27).
Dalam kaitannya dengan TNK, hampir semua pengkaji Capital dari Hilferding, Rubin, Meek, Mandel, atau Hiroyosi, tiba pada kesimpulan bahwa kita hanya akan bisa memahami TNK, jika kita mengaitkannya dengan konsep Marx tentang Pemujaan Komoditi (Commodity Fetishism). Kembali mengutip Rubin,
…theory of value does not deal with labor as a technical factor of production, but with the working activity of people as the basis of the life of society, and with the social forms within which that labor is carried out” (ibid:82)
…..TNK tidaklah berurusan dengan kerja sebagai sebuah faktor teknikal produksi, tapi dengan aktivitas kerja orang-orang sebagai basis bagi kehidupan sosial, dan dengan bentuk-bentuk sosial dalam mana kerja itu hadir” (ibid:82).
Berdasarkan pendapat Rubin ini, esensi TNK adalah menempatkan hubungan antar manusia sebagai hal yang pertama dan terutama, bukan hubungan antara manusia dengan benda, apalagi hubungan di antara benda-benda. Ronald E. Meek (opcit: 145), memberikan deskripsi yang menarik soal esensi TNK, dengan menekankan bahwa nilai, bagi Marx, menampakkan dirinya dalam wujud eskpresi hubungan produksi di antara manusia (production relation between man) dalam sebuah masyarakat. Hubungan di antara barang-barang yang terjadi di pasar, baginya tak lebih sebagai subyek dari “pertukaran individual,” yang pada esensinya merupakan ekspresi hubungan di antara produser barang-barang yang terpisah. Singkatnya, hubungan antara komoditi (things), merupakan kelanjutan dari hubungan di antara penghasil komoditi (commodity producers). Konkretnya, dalam pasar pertukaran, yang tampak kasat-mata adalah pertukaran antara sepatu dengan sandal yang dimediasi oleh uang, yang sesungguhnya terjadi, adalah pertukaran di antara produser sepatu dan produser sandal.
Pada titik inilah, konsep Marx tentang Pemujaan Komoditi, menempati peran yang sangat sentral dalam bangunan teori ekonomi politiknya. Apa itu pemujaan komoditi? Menurut Richard Schmitt (1997:78), akar teoritik dari konsep Pemujaan Komoditi ini adalah pada teori Marx-Engels tentang ideologi. Sebagaimana kita ketahui, Marx mendefinsikan ideologi sebagai sesuatu yang ditentukan oleh sistem material, dan karena sistem materialnya adalah masyarakat kapitalis yang berkelas-kelas, maka ideologi dalam pandangannya hanya berfungsi melayani kepentingan kelas dominan. Sementara bagi kelas pekerja, ideologi tak lain adalah cara pandangnya yang terbalik atas dunia obyektif, atau seperti cermin terbalik (camera obscura). Kalau anda berdiri di depan cermin, ketika anda bergerak ke kiri, maka yang tampak di cermin adalah anda sedang bergerak ke kanan.
Masih abstrak? Mari kita ikuti pendapat Michael A. Lebowitz, yang mengatakan bahwa penjelasan paling baik tentang konsep Pemujaan Komoditi, dikemukakan oleh artis Wallace Shawn, seorang aktor dan penulis AS. Dalam pementasannya berjudul “The Fever,” Shawn sebagai sang protagonis, suatu ketika menemukan Capital dan mulai membacanya pada suatu malam. Dari bacaan terhadap Capital itu, Shawn lantas mengatakan,
I came to phrase that I’d heard before, a strange, upsetting, sort of ugly phrase: this was the section on “commodity fetishism,” “the fetishism of commodities.” I wanted to understand that weird-sounding phrase, but I could tell, to understand it, your whole life would probably have to change.”
His explanation was very elusive. He used the example that people say, “Twenty yards of linen are worth two pounds.” People say that about everything, that it has a certain value. This is worth that. This coat, this sweater, this cup of coffee: each thing worth some quantity of money, or some number of other things—one coat, worth three sweaters, or so much money –as if that coat, suddenly appearing on the earth, contained somewhere inside itself an amount of value, like an inner soul, as if the coat were a fetish, a physical object that contains a living spirit. But what really determines the value of coat? The coat’s price comes from its history, the history of all the people involved in making it and selling it and all the particular relationships they had. And if wee buy the coat,we too, from relationship with all those people, and yet we hide those relationship from our own awareness by pretending we live in a world where coats have no history but just fall down from heaven with prices marked inside. “I like this coat,” we say. “It’s not expensive,” as if that were a fact about the coat and not the end of a story about all the people who made it and sold it. “I like the picture in this magazine.”
A naked woman leans over a fence. A man buys a magazine and stares at her picture. The destinies of these two are linked. The man has paid the woman to take of her clothes, to lean over the fence. The fotograph contains its history—the moment that woman unbuttoned her shirt how she felt, what the photograped said. The price ot the magazine is a code that describes the relationships between al these people—the woman, the man, the publishers, the photographer—who commanded, who obeyed. The cup of coffee contains the history of the peasants who picked the beans, how some of them fainted in the heat of the sun, some were beaten, some were kicked.
For two days I could see the fetishism of commodities everwhere around me. I was a strange feeling. Then on the third day I lost it, it was gone, I couldn’t see anymore.”
Saya tiba pada frase yang telah saya dengar sebelumnya, sesuatu yang asing, menjengkelkan, urutan frase singkat yang buruk: itulah seksi tentang “pemujaan komoditi,” “komoditi yang diberhalakan.” Saya ingin memahami frase yang terdengar aneh ini, tapi harus saya katakan, untuk memahami hal itu, seluruh kehidupan anda mungkin saja akan berubah.
Penjelasannya sangat sulit dimengerti. Ia menggunakan contoh tentang seseorang yang mengatakan, “20 yard linen berharga 2 pounds.” Orang-orang mengatakan, setiap benda pasti mengandung nilai tertentu. Demikian juga dengan barang-barang ini, seperti jas, sweater, dan secangkir kopi: ketiganya memiliki harganya sendiri-sendiri, atau setara dengan jumlah dari benda-benda lainnya—satu jas, berharga tiga sweater, atau lebih mahal lagi—seolah-olah jas tersebut muncul begitu saja ke dunia ini, datang dari suatu tempat yang pada dirinya sendiri melekat sejumlah nilai, layaknya jiwa-insani, seolah-olah jas itu adalah sebuah berhala, obyek fisikal yang padanya melekat spirit kehidupan. Tetapi, apa yang sebenarnya menentukan nilai dari jas tersebut? Harga dari jas muncul dari sejarah, sejarah seluruh masyarakat yang terlibat dalam pembuatan dan penjualannya dan seluruh hubungan tertentu yang mereka lakukan. Dan jika kita membeli jas, kita juga, dari hubungannya dengan seluruh masyarakat, maka hubungan kita tersembunyi dari kesadaran kita, seakan-akan kita hidup dalam sebuah dunia dimana jas tidak memiliki sejarah, tapi jatuh langsung dari surga dengan harga yang telah tertera di dalamnya. Lantas kita bilang, “saya suka jas ini.” “Jas ini murah” seolah-olah begitulah faktanya dan cerita tentang seluruh masyarakat yang membuat dan menjualnya tak pernah berakhir. “Saya suka gambar dalam majalah ini.”
Seorang perempuan telanjang bersandar di pagar. Seorang lelaki membeli sebuah majalah dan memandang foto perempuan tadi. Takdir keduanya membuat mereka saling terhubungkan. Si lelaki membayar si perempuan agar mau melepaskan pakaiannya, lalu bersandar di pagar. Juru foto terlibat dalam sejarah itu—pada moment dimana si perempuan melepaskan satu per satu kancung kemejanya, bagaimana perasaannya ketika mengikuti apa yang dikatakan oleh juru foto. Harga dari majalah tersebut adalah tanda yang menjelaskan hubungan di antara mereka: perempuan, laki-laki, penerbit, dan juru foto—siapa yang memerintah, siapa yang diperintah. Secangkir kopi melekat sejarah dari petani yang memetik biji kopi, bagaimana sebagian dari mereka terpaksa bekerja di bawah panas terik matahari, sebagian lainnya dipukuli, dan yang lainnya ditendang.
Selama dua hari saya melihat pemujaan komoditi di sekelilingku. Saya merasa aneh. Lalu pada hari yang ketiga saya kehilangan momen pemujaan komoditi itu, lenyap tak berbekas, saya tak pernah lagi melihatnya. (Lebowitz, 2006:44-45).
Kalau kita ikuti alur pemikiran Marx, maka penjelasannya tentang pemujaan komoditi mengambil jalur seperti ini: pertama, pemujaan komoditi tidak lahir dari nilai-guna sebuah komoditi, melainkan dari nilai-tukarnya. Sejauh benda yang merupakan produk dari kerja itu langsung dikonsumsi untuk memuaskan kebutuhan manusia (nilai-guna), tidak ada yang misterius di sana. Dalam bahasa Marx, karakter mistikal dari komoditi tidak muncul dari nilai-gunanya (opcit:164).
Sebagai contoh, jika di rumah anda ada sebuah meja antik nan indah, apa yang pertama kali muncul di kepala anda ketika melihat meja tersebut? Jika anda adalah seorang yang memiliki keahlian dalam bidang permebelan atau perkayuan, maka anda akan bisa dengan mudah menilai kualitas kayu yang menjadi bahan baku dari meja tersebut, keindahan ukirannya, atau kehalusan catnya. Tetapi, patut diragukan apakah anda tahu siapa produser meja tersebut, apakah ia seorang pengrajin, seorang buruh-upahan, atau tukang kayu amatiran, atau mungkin saja ia anggota sebuah partai terlarang di Indonesia.
Karena itu, asal-muasal munculnya pemujaan komoditi itu ada pada nilai-tukarnya, dimana barang diproduksi untuk dipertukarkan di pasar. Karena muncul dari nilai-tukar, maka yang mesti kita ingat, “sesuatu obyek yang berguna menjadi komoditi hanya karena mereka adalah produk dari kerja individu privat yang bekerja secara independen satu sama lain” (ibid:165). Individu privat itu adalah buruh dan kapitalis yang sama-sama merupakan pemilik komoditi: buruh memiliki tenaga kerja sebagai komoditinya dan kapitalis sebagai pemilik alat-alat produksi. Dan seperti yang telah kita diskusikan di atas, komoditi bisa saling dipertukarkan karena adanya nilai bersama yang dikandung oleh komoditi tersebut, bahwa ia adalah produk dari tenaga kerja manusia.
Dengan demikian, ketika kita bicara tentang nilai, kita tidak belajar tentang aspek-aspek teknikal dari benda itu sendiri (meja antik dalam contoh di atas). Apa yang kita pelajari adalah bentuk sosial produksi (social form of production), dan tentang orang-orang yang terlibat dalam proses produksi tersebut. Artinya, nilai tidak dikarakterisasikan oleh benda-benda, tapi oleh hubungan manusia dalam mana benda-benda itu diproduksi. Atau dalam bahasa Rubin, nilai adalah “hubungan sosial yang menjelma dalam hubungan di antara benda-benda,” sebuah hubungan produksi di antara orang-orang yang mengambil bentuk sebagai sesuatu yang melekat pada benda-benda” (op.cit:64).
Tetapi, dari mana kita tahu bahwa “nilai bersama itu” adalah “tenaga kerja manusia?” jawabnya, ketika komoditi itu saling dipertukarkan, bukan langsung dikonsumsi. Dari sini misteri itu perlahan-lahan muncul. Karena di bawah kapitalisme para penghasil komoditi tidak datang ke pasar untuk secara langsung mempertukarkan produknya, maka yang muncul ke permukaan adalah hubungan di antara benda-benda (relation between things): sepatu ditukar dengan sandal yang dimediasi oleh uang. Di sini, hubungan antar manusia (relation between man) menampakkan wujudnya dalam bentuk hubungan di antara benda-benda. Kata Marx, sejak para produser tidak muncul dalam kontak sosial hingga mereka mempertukarkan produk dari kerjanya, maka karakter sosial yang khusus dari kerja pribadinya muncul hanya dalam pertukaran (op.cit:165). Si A bisa berhubungan dengan si B yang tidak diketahuinya, bahkan melakukan kesepakatan jual-beli, karena adanya hubungan di antara benda-benda tersebut. Singkatnya, tanpa hubungan di antara benda-benda itu, tidak ada hubungan di antara manusia. Persis pada momen inilah karateristik misterius dari komoditi muncul.
Tetapi dalam masyarakat kapitalis, hubungan di antara benda-benda (relation between things) lebih dari sekadar materialisasi atau objektivikasi dari pertukaran di antara orang-orang. Lebih jauh lagi, hubungan di antara benda-benda tersebut pada akhirnya menentukan hubungan di antara manusia, karena hanya melalui pertukaran benda-benda itulah manusia terhubung satu dengan lainnya. Nah, ketika hubungan di antara benda-benda atau komoditi ini terjadi secara berulang-ulang, pada akhirnya ia menjadi hal yang wajar dan diterima, bahkan, diyakini sebagai sesuatu yang demikian adanya. Inilah yang disebut dengan reifikasi atau kristalisasi dalam bentuk kualitas dari benda, kualitas yang sepertinya dimiliki benda itu sendiri dan bisa dipisahkan dari hubungan produksi (Rubin, op.cit:25). Akibatnya, manusia kehilangan kontrol terhadap produk ciptaannya, dan sebaliknya dirinya kini dikontrol oleh komoditi, dipaksa dengan sadar atau tidak, untuk mengikuti hukum pertukaran komoditi. Sehingga muncul keyakinan baru dimana pertukaran merupakan ukuran dan tujuan hubungan bermasyarakat. Tanpa pertukaran tak ada produksi, tanpa hubungan di antara benda-benda, tidak ada hubungan di antara manusia. Kembali mengutip Rubin,
The social form of the product of labor, being the result of innumerable transactions among commodity producers, becomes a powerfull means of exerting pressure on the motivation of individual commodity producers, forcing them to adapt their behavior to the dominant types of production relations among people in the given society.
“Bentuk sosial dari produk kerja, yang merupakan hasil dari transaksi yang tak terhitung jumlahnya di antara produser komoditi, menjadi alat yang sangat berkuasa untuk menekan motivasi produser komoditi individual, memaksa mereka untuk menyesuaikan perilakunya pada tipe-tipe dominan hubungan produksi antara orang-orang dalam masyarakat yang ada” (op.cit:24).
Pada bagian lain ia menegaskan,
“Since the things come forth with a determined, fixed social form, they, in turn, begin to influence people, shaping their motivation, and including them to establish concrete production relations with each other…..As a result, particular individuals are subsumed under the dominant type of production relations. The social form of things conditions individual production bonds among particular people only because the social form itself is an expression of social production bonds. The social form of things appears as a condition for the process production which is given in advance, ready-made, and permanently fixed, only because it appears as congealed, crystallized result of dynamic, constantly flowing and changing social force of production. In this way, the apparent contraction between the “reification of people” and “the perconification of things” is resolved in the dialectical, uninterupted process of reproduction. This apparent contradiction is between the determination of the social form of things by production relations among people and the determination of the individual production relations among people by the social form of things.”
Sejak kemunculan benda-benda ditentukan, ditetapkan bentuk sosialnya, mereka, sebaliknya, mulai mempengaruhi orang-orang, membentuk motivasinya, dan menginkorporasikan mereka dalam penciptaan hubungan produksi yang nyata satu sama lain… Sebagai hasilnya, individu-individu tertentu terserap d bawah dominasi tipe hubungan produksi yang dominan. Bentuk sosial dari benda-benda menyebabkan produksi individual terkait di antara orang-orang tertentu hanya karena bentuk sosial itu sendiri merupakan ekspresi hubungan sosial produksi. Bentuk sosial dari benda-benda yang tampak, menjadi syarat bagi proses produksi yang lebih maju, siap-pakai, dan bersifat tetap, ketika ia muncul sebagai sesuatu yang solid, kristalisasi yang muncul dari dinamika, dan perubahan sosial kekuatan produksi yang mengalir konstan. Dalam pengertian ini, reduksi yang tampak di antara ‘bendanisasi orang-orang’ dan ‘personifikasi benda-benda’ diselesaikan secara dialektikal, proses reproduksi yang tak berkesudahan. Di sini kontradiksi yang timbul adalah antara penentuan bentuk-bentuk sosial dari benda-benda melalui hubungan produksi di antara orang-orang dan penentuan hubungan produksi individual di antara orang-orang melalui bentuk sosial dari benda-benda” (ibid:25).
Situasi pemujaan komoditi ini, oleh Marx dianalogikannya dengan mitos yang terjadi dalam sejarah agama-agama. Dalam situasi krisis, ancaman ketidakpastian, dan ketakutan, manusia melalui pikirannya kemudian menciptakan figur/sosok yang superior di luar dirinya, guna menjaga tertib sosial dan suasana batin yang damai. Tetapi, oleh proses sejarah kian hari figur bentukan ini makin menjadi otonom dari manusia, makin tak terjangkau, berada dikejauhan, dan semakin misterius. Manusia pada akhirnya menyadari bahwa figur itu sesungguhnya nyata adanya, sehingga ia tak kuasa lagi mengontrol sosok ciptaannya itu. Lebih jauh lagi, manusia kemudian malah mengimani bahwa sosok tersebut adalah maha kuasa atas hidup dan kehidupannya. Jika ingin selamat dan hidup dalam damai, manusia wajib mengikuti segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Maka muncullah ungkapan, “manusia hanya berusaha, Tuhan yang menentukan.”
Menurut Schmitt, pemujaan dalam dunia modern telah berpindah dari agama menuju ekonomi (op.cit:79). Ia mengatakan begini:
The structure of capitalist society, the division of labor, the distribution of resources are usually thought to be the results not of human choices but of the impersonal market forces. Human beings are, for the most part, powerless to alter the existing societies because the mechanisms of the market are not under their control. Attempt to control market forces many theorists add today, always end in spectacular failures. But this belief in the immutability of capitalism is another example of the tendency of ruling classes to claim universality for their view of the world. Capitalist present the world as if capitalism had always existed and as if it will always exist. Market forces have been made into fetishes in sofar as their appear to people to have independent powers that dominate human affairs.
Struktur masyarakat kapitalis, pembagian kerja, distribusi sumberdaya biasanya tidak dianggap sebagai hasil dari pilihan manusia tapi oleh kekuatan pasar yang impersonal. Umat manusia, sebagian besar, tidak berdaya untuk mengubah masyarakat yang ada karena mekanisme pasar tidak berada di bawah kontrol mereka. Para teoritikus saat ini menambahkan, usaha untuk mengontrol kekuatan pasar, selalu berakhir dengan kegagalan luar biasa. Kepercayaan terhadap kapitalisme yang bersifat kekal ini, adalah contoh lain dari kecenderungan kelas-kelas berkuasa untuk mengklaim universalitas pandangan mereka terhadap dunia. Kapitalis hadir di dunia hanya jika kapitalisme tetap eksis dan hanya jika keinginan mereka tak terganggu. Kekuatan pasar menjadi berhala sejauh mereka tampak pada rakyat sebagai kekuatan independen yang mendominasi urusan manusia” (ibid:80).
Penutup
Kembali ke soal TNK, apa konsekuensi dari pemujaan komoditi ini? Menurut saya, Marx ingin menjelaskan kepada kita bahwa esensi kapitalisme itu “adalah hubungan produksi di antara orang-orang”, lebih khusus lagi hubungan antara buruh-kapital. Dalam perspektif ini, kapitalisme selalu dan pasti di tandai oleh hubungan yang eksploitatif dan konfliktual yang bersifat tetap. Untuk bisa hidup, buruh harus menjual tenaga kerjanya kepada si kapitalis.
Elemen kelas dan perjuangan kelas (class and class struggle) inilah yang hilang dari Aristoteles maupun Ricardo. Pada Aristoteles analisa kelas tidak muncul karena memang ia hidup dalam masyarakat yang sangat mengandalkan kerja budak. Menurut Shapiro (2008:27), karena masyarakat Athena tidak melihat seluruh manusia dalam kedudukan yang setara, maka mereka tidak dapat mengerti bagaimana ceritanya sehingga kerja manusia menjadi standar nilai. Keterbatasan historis yang inheren dalam masyarakat Athena ini menyebabkan Aristoteles tidak bisa mencari solusi dari permasalahan watak ganda dari komoditi dan kerja. Sementara pada Ricardo, elemen kelas dan perjuangan kelas hilang, karena ia percaya bahwa kapitalisme adalah sebuah sistem yang kekal.
Maka dari perspektif TNK, kita hanya akan bisa mengubah hubungan produksi yang eksploitatif ini menjadi hubungan sosial yang egaliter, misalnya, dengan pertama-tama mengubah hubungan produksinya, bukan pada transaksi yang terjadi di pasar. Kata Rubin, transaksi di pasar pertukaran hanyalah konsekuensi yang tak terhindarkan dari struktur internal masyarakat; sekadar salah satu aspek saja dari proses sosial produksi (op.cit: 62). Dalam The Poverty of Philosophy, Marx menjelaskan soal ini,
In principle there is no exchange of products, but there is the exchange of labour which co-operated in production. The mode of exchange of products depends upon the mode of exchange of the productive forces. In general, the form of exchange of products correspond to the form of production. Change the latter, and the former will change in consequence. Thus in the history of society we see that the mode of exchanging products is regulated by the mode of producing them. Individual exchange corresponds also to a definite mode of production which itself corresponds to class antagonism. There is thus no individual exchange without the antagonism of classes.”
Pada prinsipnya, tidak ada pertukaran produk, melainkan pertukaran kerja yang bekerjasama dalam produksi. Corak pertukaran produk tergantung pada corak pertukaran kekuatan produktif. Secara umum, bentuk pertukaran produk berkaitan dengan bentuk produksi. Ubah yang terakhir maka konsekuensinya, bentuk pertukaran pun akan berubah. Jadi, dalam sejarah masyarakat, kita lihat, corak pertukaran produksi diatur oleh corak yang memproduksinya. Pertukaran individual berkaitan juga dengan corak produksi tertentu yang pada dirinya sendiri, berhubungan dengan antagonisme kelas. Bisa dikatakan, tak ada pertukaran individual tanpa antagonisme kelas-kelas” (1995:84).
Tetapi, esensi kapitalisme yang ditunjukkan melalui TNK ini, menjadi kabur karena kapitalisme, pada saat yang bersamaan melahirkan situasi pemujaan komoditi. Pemujaan Komoditi, membawa kita pada pemahaman bahwa hubungan sosial dalam kapitalisme adalah setara, yakni antara penjual dan pembeli secara individual. Transaksi, misalnya, terjadi secara sukarela, bergantung penilaian subyektif dan daya beli kita akan benda tersebut. Anda masuk ke supermarket untuk berbelanja barang yang anda inginkan, tanpa ada yang memaksa. Anda suka anda beli, tidak suka keluar dan cari tempat yang lain. Di sini muncul glorifikasi bahwa pasar yang bekerja tanpa intervensi dari negara dan kelompok sosial tertentu, adalah prasyarat bagi berkembangnya kebebasan dan kreativitas individu, yang pada ujugnya memunculkan sistem sosial-politik yang demokratis. Tradisi kebebasan yang terjadi di pasar, pelan tapi pasti akan menular ke sektor kehidupan yang lain.
Konsekuensinya, bukan perjuangan kelas yang menjadi motor perubahan sejarah, tapi kerjasama di antara masing-masing indidivu yang bertransaksi di pasar. Bukan mengubah hubungan produksi yang eksploitatif yang utama, tapi memperluas kesempatan setiap orang untuk berinteraksi di pasar. Celakanya, ini bukan sekadar teori, tapi adalah sebentuk iman atau keyakinan. ***
Kepustakaan:
Ben Fine and Laurence Harris, “Rereading Capital,” Columbia University Press, NY, 1979.
Edward Bibbins Aveling, “The Students’ Marx: An Introduction to the Study of Karl Marx’ Capital,” Adamant Media Corporation, November 17, 2000.
David Harvey, “The Limits to Capital,” Verso, London, 2006.
Ernest Mandel, “An Introduction to Marxist Economic Theory,” Pathfinder, 2006.
Hayashi Hiroyoshi, “Marx’s Labor Theory of Value A Defense,” iUniverse, Inc., NY, 2005.
I.I. Rubin, “Essays on Marx’s Theory of Value,” Black Rose Books, 1990.
Karl Marx, “Capital Volume I,” Progress Publishers, Moscow, 1974.
————-, “The Poverty of Philosophy,” Promotheus Books, 1995.
————-, “A Contribution to The Critique of Political Economy,” International Publishers, New York, 1989.
Michael A. Lebowitz, “Build It Now Socialism For The Twenty First Century A Fresh Clear and Innovation Vision of A Socialist Future,” Monthly Review Press, 2006.
Richard Schmitt, “Introduction To Marx and Engels A Critical Reconstruction,” Westview Press, 1997.
Ronald L. Meek, “Studies In The Labour Theory Of Value,” Monthly Review Press, 1956.
Stephen Shapiro, “How to Read Marx’s Capital,” Pluto Press, London, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s