GMNI Prihatin Menipisnya Nasionalisme Pemuda Indonesia

Jakarta (Mitra News) – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sebagai bagian dari organisasi mahasiswa memiliki keprihatinan yang teramat mendalam terhadap menipisnya nasionalisme di kalangan pemuda Indonesia.

Ketua Presidium GMNI, Twedy Noviady Ginting menilai budaya tawuran, hedonisme, individualisme, konsumerisme menjadi menu keseharian dari pemuda kita. Untuk itu pembangunan karakter bangsa merupakan jalan utama yang harus ditempuh organisasi-organisasi pemuda dengan mengedepankan kemandirian pemuda Indonesia.

“Sumpah Pemuda merupakan momentum sejarah sebagai bentuk penegasan sikap Pemuda Indonesia dalam memandang kondisi bangsa Indonesia yang pada saat itu hidup dalam belenggu penjajahan kolonialisme Belanda. Penegasan sikap tersebut di ikrarkan pada Konggres Pemuda Kedua yang dilaksanakan pada Tahun 1928. Ikrar setia tersebut merupakan hasil proses dialektik pemuda Indonesia yang memandang perlunya suatu persatuan nasional sebagai satu bangsa yang hidup dalam tanah air yang satu. Oleh sebab itu kemudian 28 Oktober juga di sebut sebagai lahirnya bangsa Indonesia,” ujar Twedy pada Mitra News di Jakarta (17/10).

Twedy mengatakan Indonesia memiliki sejarah yang berbeda dari negara lain bila ditelisik dari kelahirannya. Karena pada tanggal 28 Oktober 1928 lebih dulu lahir bangsa Indonesia yang kemudian di wadahi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945 setelah UUD disahkan.

Dalam setiap momentum sejarah sejak 1908 sebagai mommentum kebangkitan nasional, 28 Oktober dan 17 Agustus 1945 tercatat pemuda Indonesia memiliki peran penting di dalamnya. Peran pemuda Indonesia, menurut Twedy merupakan bentuk perlawanan yang memfusikan intelektualitas, organisasi serta prinsip-prinsip pokok perjuangan.

“Merusak moral dan karakter generasi muda Indonesia merupakan cara paling efektif untuk merusak Indonesia. Rusaknya pemuda Indonesia berarti sama dengan hancurnya masa depan Indonesia. Bahwa apa yang harus dilakukan pemuda Indonesia hari ini bukanlah dengan menggelar sumpah pemuda kedua. Karena sumpah pemuda 28 Oktober merupakan kebutuhan perjuangan pada era itu yang tidak dapat ditiru dengan melakukan sumpah pemuda kedua. Setiap zaman memiliki anak zamannya sendiri, sehingga sumpah pemuda kedua bukanlah jalan keluar,” terang Twedy.

Untuk itu, seluruh organisasi pemuda harus melakukan tindakan yang sama terhadap pemuda-pemuda Indonesia melalui pendidikan kader di tiap-tiap organisasi. Materi dasar yang harus menjadi perhatian serius adalah pembangunan karakter bangsa yang harus dimulai dari membangun karakter generasi muda.

“Seberapapun tingginya tingkat intelektualitas pemuda Indonesia tanpa tertanamnya prinsip nasionalisme maka intelektualitas itu hanya akan menjadi alat yang berdaya untuk kelompok kepentingan tertentu saja, atau bahkan lebih parah lagi intelektualitas itu kemudian justru digunakan untuk merusak bangsanya sendiri. Pemuda-pemuda Indonesia harus diberikan pemahaman mengenai hukum-hukum kausalitas, romantika, dinamika dan dialektika sebagai metode berpikir dalam menganalisa situasi dan perkembangan sejarah bangsanya,” tutupnya. (Har).

dimuat di: http://mitranews.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=3818&judul=gmni-prihatin-menipisnya-nasionalisme-pemuda-indonesia.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s