Perskektif Pekerja Seks Komersial Tentang Soekarno

  • Seorang kepala pemerintahan kadang-kadang tidak tahu laporan mana yang harus dipercaya. Yang pertama muncul di halaman majalah Look. Majalah itu menyatakan, rakyat Indonesia semua menentangku, dimana yang mewawancarai seorang tukang becak yang sudah muak dengan Soekarno. Setelah itu, Soekarno berjalan-jalan sekitar lingkungan Istana pada pukul 5 sore yang menjadi olahraga satu-satunya Soekarno. Dan menemui seorang pejabat kepolisian dengan sikap yang sangat gelisah, lalu Soekarno menanyakan kepadanya, apa yang sedang dipikirkannya.
    • Ya, Pak”, Ia memulai, “Sebenarnya sebuah kabar baik.”
    • Apa yang kau maksud, sebenarnya kabar baik?” tanya Bung Karno.
    • Ya”, katanya, “Rakyat sangat menghormati Bapak. Mereka mencintai Bapak. Dan mereka itu terutama dari rakyat bawah. Saya mengetahui, karena saya baru menyaksikan sesuatu yang menunjukkan penghargaan mereka terhadap Bapak.” (Dia tidak meneruskan kembali ucapannya)
    • Lanjutkan,” desak Bung Karno, “Katakan kepadaku. Kau habis dari mana dan siapa yang kau datangi dan apa yang mereka lakukan?”
    • Begini, Pak,” ia menjawab, “Kami punyai suatu tempat, di mana perempuan-perempuan pekerja seks di lokalisasi. Kami memeriksa lokasi itu pada waktu-waktu tertentu, karena sudah menjadi tugas kami mengadakan pengawasan secara terus-menerus. Kemarin serombongan petugas memeriksa keadaan mereka dan Bapak tahu apa yang mereka temukan? Mereka menemukan potret Bapak. Terpasang di dinding.
    • Di mana saja terdapat potretku?” tanya Bung Karno kepadanya.
    • Di setiap kamar, Pak. Di dalam setiap kamar, seperti biasanya, terdapat tempat tidur. Dekat setiap ranjang ada meja dan di atas dari meja itu-di situlah potret Bapak di gantungkan”. (Dengan gelisah polisi menunggu perintah). “Pak, kami merasa gembira rakyat memuliakan Bapak, tetapi dalam hal ini kami merasa ragu apakah pantas kalau potret Presiden digantungkan di dinding rumah pelacuran. Apa yang harus kami lakukan? Apakah potret-potret Bapak harus dipindahkan dari dinding-dinding itu?
    • Jangan,” jawab Bung Karno. “Tak usah fotoku di turunkan. Biarkan mataku yang tua dan letih itu menikmati pemandangan di sana!

Tidak seorang pun di zaman sekarang ini yang seperti Soekarno, ketika era reformasi ini memblooming.. banyak pemimpin yg mencari jabatan demi sebuah kepentingannya sendiri!!

kenali Bung Karno!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s